Melalui alur dramatik yang sarat pesan filosofis, fragmentari ini menegaskan bahwa perjalanan hidup manusia pada akhirnya merupakan proses penyucian diri melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran dharma hingga mencapai pelepasan menuju swargaloka.
Gubernur Koster sendiri mengapresiasi Parade Gong Kebyar Dewasa malam itu yang kembali menunjukkan bahwa Pesta Kesenian Bali tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni pertunjukan, tetapi juga wahana pelestarian nilai-nilai spiritual, sejarah, dan identitas budaya Bali yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya melalui karya-karya kreatif berakar kuat pada tradisi. [rel]










