Sementara itu, Duta Kota Denpasar membuka penampilannya dengan Tari Banda Yowana, sebuah tari kreasi yang lahir pada 1987. Karya ini mengisahkan sekelompok pemuda yang terikat dalam semangat organisasi, kebersamaan, dan persaudaraan.
Melalui komposisi gerak yang dinamis dan serempak, tarian tersebut merepresentasikan semangat generasi muda dalam membangun solidaritas sekaligus menjaga warisan estetika Tari Bangdu yang menjadi sumber inspirasi utama penciptaannya.
Pada sajian pamungkas, kedua duta seni kembali menampilkan karya monumental bernuansa magis yang mendapat apresiasi meriah dari penonton.
Bangli mempersembahkan garapan Merujaklalang, sebuah interpretasi artistik atas ritus sakral masyarakat Desa Songan yang menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara pengabenan sekaligus identitas budaya desa Bali Aga tersebut.
Pertunjukan menampilkan prosesi perebutan rumput ilalang sebagai simbol penyucian yang dikemas melalui tata gerak maskulin, dinamika gong kebyar, serta ritme dramatik. Simbol perebutan "rujak" dimaknai sebagai penghancuran ego jasmani menuju pemurnian jiwa, sebelum bermuara pada sukacita sebagai lambang keikhlasan menerima kematian sebagai proses transformasi spiritual.
Adapun Duta Kota Denpasar menutup penampilannya melalui fragmentari Tamtam, yang mengangkat kisah spiritual dua atma, Gina dan Gidul.
Dalam cerita tersebut, Gidul bereinkarnasi menjadi pengembara suci bernama Tamtam, murid Aji Saka dari Pulau Jawa, sementara Gina bereinkarnasi menjadi Dewi Aryeswara di Kerajaan Mesir. Pertemuan keduanya bermula dari sebuah sayembara, namun berkembang menjadi perjalanan spiritual menuju penyatuan nilai-nilai Siwa-Buddha.










