Bonus Demografi: Peluang yang Tidak Datang Dua Kali
Di tengah perubahan tersebut, Bali saat ini berada dalam fase yang sangat penting, yaitu bonus demografi. Kondisi ini terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
SUPAS 2025 menunjukkan bahwa hampir 70 persen penduduk Bali berada dalam kelompok usia produktif. Ini berarti sebagian besar masyarakat berada pada usia kerja, usia belajar, usia berinovasi, dan usia paling aktif secara ekonomi.
Para ekonom menyebut bonus demografi sebagai “jendela peluang” karena kondisi ini tidak berlangsung selamanya. Negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura pernah memanfaatkan momentum serupa untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui investasi besar pada pendidikan, industrialisasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Bagi Bali, peluang tersebut dapat menjadi kekuatan besar untuk memperkuat ekonomi kreatif, pariwisata berkualitas, UMKM, hingga ekonomi digital. Namun bonus demografi tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Tanpa pendidikan yang baik, lapangan kerja yang memadai, dan SDM yang kompetitif, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban sosial.
Rasio Ketergantungan Bali Masih Relatif Rendah
Salah satu indikator penting dalam melihat bonus demografi adalah rasio ketergantungan (_dependency ratio_), yaitu perbandingan antara penduduk usia non-produktif dengan penduduk usia produktif.
Hasil SUPAS 2025 menunjukkan rasio ketergantungan Bali sebesar 43,82 persen. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 43 penduduk usia non-produktif.










