Bali Sedang Berubah: Mengenal Transisi Demografi dengan Bahasa Sederhana 

IMG-20260527-WA0002
Transisi demografi penduduk Bali. (foto:istimewa/ilustrasi).

Kini situasinya sudah sangat berubah. Pendidikan masyarakat semakin tinggi, biaya hidup meningkat, dan pola hidup mulai bergeser menuju masyarakat modern yang lebih urban dan kompetitif.

Perempuan juga semakin aktif menempuh pendidikan dan berkarier, sehingga keputusan membangun keluarga menjadi lebih terencana.

Di sisi lain, layanan kesehatan yang semakin baik membuat angka kematian bayi menurun dan harapan hidup meningkat. Akibatnya, masyarakat saat ini cenderung memilih memiliki anak lebih sedikit dengan fokus pada kualitas pengasuhan, pendidikan, dan masa depan anak dibanding sekadar jumlah anak dalam keluarga.

Struktur Umur Penduduk Bali Sedang Bergeser

Perubahan struktur penduduk Bali terlihat cukup jelas jika dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk 2010. Berdasarkan SUPAS 2025, proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) meningkat dari 67,51 persen pada tahun 2010 menjadi 69,53 persen pada tahun 2025.

Sebaliknya, proporsi penduduk usia anak (0–14 tahun) mengalami penurunan cukup signifikan, dari 25,89 persen menjadi 20,58 persen. Sementara itu, jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat. Penduduk berusia 65 tahun ke atas naik dari 6,60 persen pada tahun 2010 menjadi 9,89 persen pada tahun 2025.

Perubahan ini menunjukkan bahwa struktur penduduk Bali mulai menyempit pada kelompok usia muda dan melebar pada kelompok usia dewasa serta lansia. Dalam istilah demografi, kondisi tersebut menandakan Bali sedang bergerak menuju _ageing population_ atau masyarakat menua.

Fenomena penuaan penduduk sendiri menjadi tren global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penduduk lansia dunia akan terus meningkat dalam beberapa dekade ke depan akibat meningkatnya harapan hidup dan menurunnya angka kelahiran.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top