Dukungan nyata dari pemerintah turut menjadi sorotan utama. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), berpartisipasi aktif. Kehadiran Ir. Reni Yanita, M.Si, selaku Direktur Jenderal IKMA, dan Dickie Sulistya Aprilianto, Kepala Pusat Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya, menggarisbawahi komitmen pemerintah melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dalam memperkuat ekosistem kreatif nasional.
Kepala Pusat Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya, Dickie Sulistya Aprilianto menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian akan menyosialisasikan berbagai program fasilitasi, termasuk program Restrukturisasi Mesin Peralatan bagi IKM fashion di Bali. Program ini secara singkat memungkinkan pelaku industri mendapatkan penggantian uang tunai setelah pembelian mesin, sebuah langkah konkret untuk modernisasi dan peningkatan daya saing.
“Kami berharap BPIFK dapat terus berkolaborasi dengan Paramatex. Selain itu, kami ingin berbagi berbagai fasilitasi program yang dimiliki Kementerian Perindustrian yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku industri fashion di Bali,” ungkap Dickie, menekankan sinergi antara regulasi, inovasi, dan kreativitas.
Semangat kolaborasi juga disuarakan oleh Yodi Hartadi Pramono dari Harapan Tri Hita Karana. Ia menyebutkan bahwa kolaborasi dengan BFN sangat krusial untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan dan mendorong perubahan masif. "Fashion ini menjadi trigger untuk semua industri, semua elemen masyarakat di Bali bahwa Bali itu adalah tempat di mana surga untuk kegiatan-kegiatan ramah lingkungan atau wellness," jelasnya.










