“Bank Indonesia juga memprediksi penurunan defisit transaksi berjalan kemungkinan akan meningkat pada triwulan II dan III 2020. Sebab, dampak tekanan ekonomi akibat pandemi covid-19 lebih dalam pada periode ini. Lalu berangsur membaik di triwulan IV dan pulih pada tahun depan. Sehingga, secara keseluruhan, defisit tahun berjalan tahun ini diperkirakan akan lebih rendah," jelas Trisno Selasa (21/4/2020).
Lanjutnya Trisno menyampaikan, pergerakan nilai tukar rupiah yang bergerak stabil dan cenderung menguat menunjukkan keyakinan pasar yang terus membaik. Terdapat empat faktor yang mendukung stabilitas nilai tukar. Pertama, pelaku pasar dalam dan luar negeri memiliki confidence karena Bank Indonesia selalu berada di pasar dan menempuh langkah-langkah yang diperlukan dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua, confidence yang membaik ini didukung langkah-langkah yang ditempuh dari berbagai negara di dunia, baik dalam penanganan COVID-19 maupun stimulus fiskal dan moneter yang besar, termasuk di Indonesia. Hal itu terlihat pada stimulus fiskal (kenaikan defisit fiskal) Pemerintah, quantitative easing dari Bank Indonesia dan kebijakan relaksasi kredit dari OJK.
Ketiga, mekanisme pasar berlangsung dengan baik, sehingga mengurangi kebutuhan Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi. Hal ini berdampak pada posisi cadangan devisa yang meningkat. Keempat, selama satu minggu terakhir khususnya pada periode 14-16 April 2020, terjadi aliran masuk modal asing (inflow) masing-masing sebesar Rp0,7 triliun (14/4/2002), Rp0,2 triliun (15/4/2002), Rp2 triliun (16/4/2020), inflow sebagian besar ke SBN. Secara historis periode 2011 – 2019 di Indonesia, outflow relatif kecil dalam periode yang pendek dan diikuti dengan inflow yang besar dalam peiode yang panjang. Data menunjukkan rata-rata outflow SBN sebesar Rp29,2 triliun dalam waktu 4 (empat) bulan dan diikuti inflow SBN sebesar Rp229,1 triliun dalam waktu 21 bulan.










