Badung dan Jembrana Adu Kreativitas Palegongan Klasik 

IMG-20260629-WA0027
Parade Palegongan Klasik Khas dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (28/6/2026). IST

Ia menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa seni palegongan masih memiliki daya tarik yang kuat. Hal itu menjadi sinyal positif bahwa warisan seni klasik Bali tetap mendapat tempat di hati penonton lintas generasi.

Jembrana membuka penampilannya dengan Tabuh Kulicak, sebuah tabuh petegak palegongan klasik yang diciptakan maestro I Gusti Putu Made Geria pada era 1970-an. Karya yang terinspirasi dari kicauan burung kulicak itu kemudian disusul dengan Tari Legong Bapang Saba, repertoar klasik dari Desa Adat Saba, Gianyar, ciptaan I Gusti Bagus Jelantik pada dekade 1930-an.

Penampilan Jembrana semakin lengkap melalui Tabuh Kreasi Pelegongan "Pengalantaka" karya I Komang Diki Putra Sentana dan Tari Kreasi Palegongan "Mamerko" garapan Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani. Karya terakhir menjadi bentuk penghormatan kepada seniman Berko, Ni Ketut Nepa atau yang akrab dikenal sebagai Dadong Barak.

Sementara itu, Badung tampil tak kalah memikat. Penampilan dibuka dengan Tari Palegongan Kreasi "Nyrigśa" yang ditata Ida Bagus Yodhie Harischandra dengan penata tabuh Ida Bagus Hery Yoga. Suasana kemudian berubah lebih khidmat melalui Tabuh Palegongan Klasik "Solo", karya monumental maestro I Wayan Lotring yang lahir dari pengalaman artistiknya usai pentas di Solo pada 1926.

Badung melanjutkan pertunjukan dengan Tari Palegongan Klasik "Legod Bawa" sebelum menutup penampilan lewat Tabuh Palegongan Kreasi "Rong Telu" karya I Wayan Mulyadi. Karya tersebut menawarkan tafsir baru terhadap konsep rong telu, tidak semata dimaknai sebagai ritus kematian, melainkan sebagai refleksi filosofis yang sarat makna.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top