“Bagi motor yang masih mengadopsi sistem karburator, kerak dari endapan bensin yang mengering kerap membuat komponen skep menjadi lengket. Kondisi serupa juga mengintai motor modern bersistem injeksi, di mana tumpukan kerak karbon dapat menyumbat pergerakan katup kupu-kupu pada throttle body. Akibatnya, pasokan udara dan bensin menjadi tidak stabil saat pengendara mencoba menutup gas,” jelas Hendra Sagita.
Tak hanya sektor mekanis, menurut Hendra Sagita, era motor injeksi saat ini juga sangat bergantung pada keandalan sensor elektronik, khususnya Throttle Position Sensor (TPS). Jika komponen pintar ini mengalami gangguan atau eror, komputer motor (ECU) akan salah membaca data, sehingga RPM mesin tetap tinggi meski tuas gas sudah dilepas. “Untuk mendeteksi kerusakan pada area sensorik ini, diperlukan alat diagnostik khusus di bengkel resmi,” ujarnya.
Selain sistem utama di atas, penurunan kinerja saluran udara juga mampu memicu gangguan pada sensitivitas puntiran gas. Filter udara yang terlampau kotor atau knalpot yang tersumbat oleh sisa pembakaran dapat mengacaukan sirkulasi tekanan di ruang bakar. Hambatan aliran udara ini secara tidak langsung membuat respons balik dari tuas gas menjadi terasa lebih lambat dan berat dari biasanya.
Guna mengantisipasi potensi bahaya tersebut, Hendra Sagita membagikan sejumlah langkah preventif yang wajib dilakukan secara berkala. Langkah pertama adalah melakukan servis rutin untuk memastikan kebersihan komponen throttle body dan sensor TPS. “Perawatan ini sangat penting agar tidak ada kerak membandel yang mengganggu sistem komputerisasi motor Anda,” ucapnya.










