Kepala BPK Wilayah XV, Kuswanto, menjelaskan Mesaba Festival berlangsung selama dua hari. Kegiatan diawali dengan nunas tirta sebagai permohonan keharmonisan dan keselamatan, dilanjutkan penanaman benih secara serentak sebagai simbol keberlanjutan dan ketahanan pangan. “Ini upaya membuka kembali dan memperkuat Subak sebagai warisan adiluhung,” kata Kuswanto.
Ia menambahkan, DAS Pakerisan menyimpan jejak panjang peradaban Bali, termasuk temuan arkeologis dan prasasti kuno yang menegaskan pentingnya menghormati leluhur serta melanjutkan jejak kearifan yang telah diwariskan.
Sementara itu, Asisten I Setda Kabupaten Gianyar I Ketut Mudana yang mewakili Bupati Gianyar menilai Mesaba Festival 2025 sebagai pengingat kolektif bagi masyarakat, pelaku usaha, hingga pengembang untuk kembali menempatkan alam sebagai pusat perencanaan pembangunan.
“Pelestarian tidak cukup dengan seremoni. Harus ada langkah konkret melalui sinergi antara Balai Pelestarian Kebudayaan dan Pemerintah Kabupaten Gianyar,” ujarnya. Ia menegaskan, penguatan desa adat berbasis nilai kearifan lokal menjadi salah satu misi utama Pemkab Gianyar dalam menjaga keberlanjutan alam dan budaya Bali.










