MANGUPURA-fajarbali.com | Lanskap pertanian kopi di Indonesia kini mengalami pergeseran peran yang signifikan. Di tengah ancaman perubahan iklim global, kebun kopi tak lagi dipandang sekadar sebagai lokasi produksi komoditas harian. Dalam ajang Indonesia Carbon and Biodiversity Summit (ICBS) 2026 di Nusa Dua, Coop Coffee Indonesia melalui PT Koop Kopi Indonesia menegaskan pentingnya membangun ekosistem terpadu yang menghubungkan lanskap, petani, data, teknologi, dan pasar guna menjaga biodiversitas sekaligus menopang ekonomi warga. Pendekatan ini berfokus pada tata kelola lingkungan yang terukur tanpa mengorbankan mata pencaharian masyarakat lokal.
CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus, memaparkan bahwa masa depan ekonomi hijau sangat bergantung pada kesiapan pelaku di tingkat tapak. Kebijakan iklim tidak akan berjalan optimal tanpa keterlibatan langsung masyarakat yang merawat lahan sehari-hari. Oleh karena itu, Coop Coffee mengambil peran pada tahap awal pendampingan hingga eksekusi di lapangan.
"Melalui perpaduan antara pengetahuan lokal dan teknologi digital, setiap perubahan positif pada kualitas lahan kini dapat didokumentasikan serta diverifikasi dengan akurat. Pengukuran karbon ini dilakukan tanpa mengganggu atau merusak kebun petani. Sebaliknya, skema ini menghadirkan timbal balik dari perusahaan penyumbang emisi global yang bertindak sebagai donatur untuk merawat kebun-kebun kopi tersebut, sehingga pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan," ungkapnya, Rabu (9/9/2026)










