Undang Gelak Tawa, Taman Penasar Duta Kabupaten Badung Angkat Isu Sosial Masyarakat 

1000670021
Wimbakara (Lomba) Taman Penasar Duta Kabupaten Badung pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Kamis (18/6).

DENPASAR-Fajarbali.com |Tokoh Wayan berulang kali mengundang gelak tawa ratusan penonton yang memadati Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Art Centre Denpasar, dalam ajang Wimbakara (Lomba) Taman Penasar serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Kamis (18/6).

Penampilan Duta Kabupaten Badung, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru dari Desa Adat Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Bali.

Melalui tokoh Wayan, para penyaji mengangkat isu-isu sensitif seperti makna menyama braya, beban kewajiban adat, hingga ketimpangan ekonomi yang kerap dirasakan masyarakat adat. Berbagai celetukan yang dilontarkan tokoh tersebut menggambarkan kegelisahan masyarakat yang merasa terhimpit antara tuntutan ekonomi dan kewajiban sosial keagamaan.

 

Dalam pementasan itu, Wayan digambarkan sebagai sosok yang pesimistis. Ia mengibaratkan dirinya seperti “batu yang direbus”, yang tak akan pernah berubah nasibnya meskipun terus berupaya menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan semangat menyama braya.

 

Ketua Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru, I Wayan Citra, menjelaskan bahwa karakter Wayan sengaja dihadirkan sebagai refleksi realitas yang terjadi di masyarakat saat ini.

 

“Wayan adalah sosok antagonis yang hanya melihat persoalan dari satu sisi. Ketika tidak menemukan istrinya di rumah, ia langsung marah tanpa mengetahui bahwa istrinya sedang melayat warga yang meninggal dunia. Karakter ini menggambarkan pola pikir yang masih sering dijumpai di masyarakat,” ujarnya usai pementasan.

 

Namun, seiring jalannya cerita, Wayan akhirnya mengalami perubahan. Melalui berbagai tutur sastra yang disampaikan para tokoh dalam bentuk sekar alit, sekar madya, sekar agung, sloka, hingga palawakya, kesadarannya perlahan tumbuh.

BACA JUGA:  Beri Motivasi dan Semangat Wabup Suiasa Kunjungi Posko Satgas Gotong Royong di 19 Perumahan di Kuta Selatan

 

Salah satu pesan yang diangkat berasal dari Geguritan Dharma Sunyata karya I Made Menaka, sebuah karya sastra klasik Bali yang memuat ajaran etika, filosofi Hindu, dan nilai moderasi beragama.

 

“Pada akhirnya Wayan sadar setelah mendengarkan nasihat Jero Kelian dan masyarakat. Ia memahami makna sejati menyama braya. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara yadnya dan ekonomi. Terlalu fokus mencari uang hingga melupakan yadnya tidak baik, tetapi sebaliknya, terus-menerus meyadnya tanpa memperhatikan kebutuhan keluarga juga akan menimbulkan persoalan,” jelasnya.

 

I Wayan Citra menuturkan, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru berdiri pada 9 Juli 2005 atas prakarsa sejumlah seniman otodidak asal Desa Adat Tanjung Benoa. Seiring perjalanan waktu, sanggar terus berbenah, terutama setelah bergabungnya seniman muda yang menempuh pendidikan seni formal di Institut Seni Indonesia (ISI).

 

“Dari sana kami mulai menata organisasi dan pola pengelolaan sanggar. Astungkara, hingga saat ini sanggar tetap ajeg, meraih berbagai penghargaan, dan dipercaya tampil dalam PKB,” katanya.

 

Sebelumnya, sanggar tersebut pernah tampil dalam PKB ke-45 melalui Rekonstruksi Gamelan Tua Angklung Kakelentangan dan juga berhasil meraih Juara I pada Wimbakara Taman Penasar beberapa tahun lalu.

 

Mengenai target pada PKB tahun ini, I Wayan Citra mengaku proses persiapan tidak mudah. Pembatasan usia peserta antara 17 hingga 28 tahun menjadi tantangan tersendiri, ditambah minimnya peminat seni Taman Penasar di kalangan generasi muda.

 

“Kami sempat mengalami kesulitan mencari personel. Ada yang masih sekolah, baru bekerja, atau sedang mempersiapkan kuliah. Bahkan di tengah proses persiapan kami sempat merasa frustrasi. Namun, astungkara semuanya bisa teratasi. Seluruh penyaji, panembang, dan penabuh yang tampil merupakan putra-putri Kuta Selatan, kecuali pembina,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Bulan Bhakti Gotong Royong Desa Abiansemal, Wabup Suiasa Tebar 10.000 Benih Ikan Nila di Br. Juwet Abiansemal

 

Dalam Wimbakara Taman Penasar PKB XLVIII Tahun 2026, Sanggar Seni Semar Pegulingan Sekar Tunjung Biru membawakan garapan berjudul “Upahayu Atmeng Tanu”, berdasarkan naskah karya I Nyoman Wija Widastra bertajuk Wijil Akah Canging.

 

Garapan tersebut dibina oleh I Nyoman Wija Widastra dan I Putu Raka Wijana sebagai pembina tembang, serta I Ketut Aditya Putra, S.Sn., M.Sn., dan I Wayan Pradnya Pitala, S.Sn., sebagai pembina tabuh.

 

“Upahayu Atmeng Tanu berasal dari kata upahayu yang berarti memelihara dan atma ing tanu yang berarti Sang Hyang Atma yang berada dalam tubuh. Jadi, Upahayu Atmeng Tanu memiliki makna memelihara Sang Hyang Atma yang bersemayam dalam angga sarira atau tubuh manusia,” pungkas I Wayan Citra.W-004

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top