Konflik Timur Tengah Ancam Pariwisata Bali, Akademisi Undiksha Sebut AS dan Israel Langgar Hukum Internasional

IMG-20260302-WA0000
Prof. Dr. Dewa Gede Sudika Mangku, S.H., LL.M. (foto/ist)

DENPASAR-fajarbali.com | Guru Besar Hukum Internasional Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Prof. Dr. Dewa Gede Sudika Mangku, S.H., LL.M. menangapi gejolak yang terjadi di Timur Tengah.

Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan militer kepada Iran, sehingga menyebabkan tewasnya pimpinan tertinggi Iran yaitu Ayatollah Ali Khamenei, atas kematian pimpinan yang kharismatik tersebut, pemerintah Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung untuk mengenang Ayatollah Ali Khamenei.

"Apa yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel tidak bisa dibenarkan, karena Tindakan tersebut telah menciderai hukum internasional," kata Sudika Mangku, dihubungi Senin (2/3/2026).

Sudika Mangku berpendapat AS dan Israel telah dengan sengaja melakukan pelanggaran hukum internasional yang tertuang di dalam Pasal 2 ayat 4 Piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa “Semua negara anggota wajib menahan diri dalam hubungan internasional mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara mana pun, atau dengan cara lain yang tidak sesuai dengan Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa”.

Dimana tujuan dari PBB tersebut untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional dan mengutaman cara damai, jika terdapat permasalahan dunia dan antar-negara.

Sudika Mangku melanjutkan, akibat tindakan militer AS dan Israel menyerang Iran mendapatkan kecaman keras dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Gutterres. Sekjen PBB mengatakan bahwa serangan tersebut merusak perdamaian dan keamanan internasional.

"Kondisi di Timur Tengah dalam keadaan mencekam, ketegangan yang kian hari akan memuncak sehingga membuat banyak pihak khawatir atas situasi yang terjadi disana," imbuhnya.

Melihat kondisi ini serta keamanan yang tidak menentu, ia berharap secepatnya Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia untuk dengan cepat bergerak memastikan keselamatan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang berada di wilayah terdampak demi memberikan perlindungan maksimal kepada setiap WNI.

BACA JUGA:  Jadi BUMN yang Menguntungkan, Komisaris Telkom: Kami Adaptif!

Terkait dampak konflik itu terhadap Indonesia khususnya Bali yang mengabulkan pariwisata, ia menyebut dampaknya menjalar ke lintas benua dan dunia, termasuk terhadap pariwisata Bali yang selama ini bergantung pada stabilitas mobilitas internasional.

Penutupan ruang udara di sejumlah negara kawasan konflik telah memicu pembatalan penerbangan dari dan menuju Timur Tengah, termasuk yang terhubung melalui rute internasional ke Bali.

"Bagi Pulau Dewata, gangguan tersebut bukan sekadar persoalan teknis penerbangan, melainkan ancaman terhadap ekosistem ekonomi yang bertumpu pada kunjungan wisatawan mancanegara," tegasnya.

Secara ekonomi, pembatalan penerbangan berdampak langsung pada maskapai, bandara, agen perjalanan, hotel, hingga pelaku UMKM sektor pariwisata. Setiap pembatalan berarti potensi kehilangan devisa, terganggunya tingkat hunian hotel, dan berkurangnya perputaran ekonomi lokal.

Akibat terjadinya serangan AS dan Israel ke Iran, di Bandara I Gusti Ngurah Rai dilaporkan terdapat lima penerbangan keberangkatan internasional dari Bali ke kawasan negara Timur Tengah telah dibatalkan dan ribuan calon penumpang terdampak atas pembatalan tersebut.

Bali selama ini menjadi simbol pariwisata nasional, sehingga setiap gangguan yang terjadi di Timur Tengah dapat menimbulkan kekhawatiran lesunya wisatawan yang akan datang ke Indonesia khususnya Bali.

Ia berpandangan, ketergantungan pada konektivitas global membuat Bali sangat sensitif terhadap instabilitas geopolitik, sama halnya pada saat Pandemi Covidi-19. Dimana wisatawan yang berkunjung dan berlibur ke Bali sangat turun merosot tajam sehingga melumpuhkan pariwisata yang ada di Bali.

Dalam konteks ini, perang di Timur Tengah bukan hanya isu keamanan, tetapi juga isu ekonomi global yang berdampak pada Bali secara langsung, jika perang berlangsung lama tentu ini menjadi ujian yang sangat berat dihadapi oleh Bali.

BACA JUGA:  Tampil Dengan Layanan Baru, Astra Motor Batubulan “Go Live”.

Ia mendorong agar Bali harus mampu mengatasi kondisi ini dan harus kuat bertahan, dimana Bali harus melakukan gebrakan yang tidak hanya mengandalkan penerbangan yang datang dari Timur Tengah melainkan fokus pada wisatawan diluar itu dan Asia dan Asia Tenggara serta jangan dilupakan wisatawan domestik untuk terus melakukan promosi pariwisata sehingga mereka mau berkunjung dan berlibur ke Bali.

"Perang di Timur Tengah menjadi alarm untuk pariwisata Bali ke depan, setiap percikan konflik peperangan yang terjadi di belahan dunia manapun yang sekalipun jauh dari Bali hal ini dapat membuat dampak yang sangat terasa bagi kehidupan pariwisata di Bali," pungkas Sudika Mangku.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top