GIANYAR-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | DLH Gianyar menyebutkan kualitas air pada sumber mata air dan di sejumlah beji (mata air untuk upakara) yang terdapat di Gianyar kondisinya masih dalam batas baku mutu. Walau demikian, yang dikhawatirkan adalah akibat pencemaran lingkungan tidak diantisipasi segera oleh warga di sekitarnya.
Ancaman terhadap sumber mata air ini adalah bakteri E-Coli dan pecemaran kimia akan menjadi petaka bersama.
Sebelumnya, DLH Gianyar telah melakukan uji laboratorium oleh Unit Pelayanan Terpadu Labotarium pada puluhan sumber mata air. Kepala DLH Gianyar, I Wayan Kujus Pawitra didampingi Kepala UPTD Labotarium, Ni Luh Putu Diah Mantiasih, Senin (18/2) mengungkapkan, jika uji baku mutu yang dilaksanakan pada 60 titik sumber mata air. “Sampai saat ini ke-60 sumber mata air itu belum tercemar, namun ada catatan yang berpotensi tercemar,” jelas Kujusd Pawitra.
Pencemaran yang paling umum terjadi karena limbah industry, kotoran manusia dan kotoran ternak termasuk sampah limbah rumah tangga. “Pencemaran limbah industri hingga kotoran manusia maupuan ternak, mesti diantisipasi, ke depan tidak terjadi pencemaran. Indikasi pencemaran itu sangat kentara, mengingat begitu banyaknya pabrik -pabrik yang sudah mulai mencemari sungai, limbah hotel dan restaurant hingga limbah ternak,” beber Kujus Pawitra lagi.
Kujus tidak menampik, pencemaran lingkungan di Gianyar terjadi hampir di seluruhr desa. Bahkan tidak sedikit sungai yang masih digunakan warga, sebagai saluran pembuangan kotoran ternak, limbah garmen dan menjadi tempat pembuangan. Selain dilakukan warga, pencemaran lingkungan juga dilakukan sejumlah hotel, vila dan restauran. Dengan melakukan penelitian terhadap kualitas air, pihaknya ingin memastikan air beji yang selama ini dianggap suci, terbebas dari bakteri dan zat kimia berbahaya. “Melihat pencemaran yang sulit dikontrol, kami menjadi was-was terhadap kualitas air. Khususnya air beji yang digunakan masyarakat sebagai tirtha,” ujar Kujus.










