5 Tahun Dinanti, CEO ARM Hospitality Wujudkan Visi Humanis Lewat Film ‘Rumah Kedua’

2026-06-12-at-18.36.41
CEO ARM Hospitality Ronny Soetanto, Produser Goh Wei Woon hingga para pemain foto bersama saat Gala Premiere ‘Rumah Kedua’.

DENPASAR-fajarbali.com | ARM Hospitality dengan bangga mengumumkan keberhasilan penyelenggaraan Gala Premiere film pendek berjudul Rumah Kedua yang berlangsung meriah pada Jumat (12/6), bertempat di salah satu mall di Denpasar, Bali. Perhelatan sinematik ini menandai tonggak sejarah baru bagi korporasi, sekaligus merealisasikan sebuah visi humanis yang telah digagas sejak lima tahun silam oleh Chief Executive Officer (CEO) ARM Hospitality, Ronny Soetanto. Kehadiran karya layar lebar ini menegaskan posisi perusahaan yang tidak hanya bergerak di bidang bisnis pelayanan, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat melalui media seni budaya.

Film pendek Rumah Kedua mengangkat narasi mendalam mengenai dinamika kehidupan seorang perantau bernama Baskara, yang terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya demi mengejar impian serta masa depan yang lebih baik. Namun, perjalanan tersebut diwarnai dilema batin yang berat lantaran ia harus mengikhlaskan sang ayah bertahan di kampung halaman dalam kondisi kesehatan yang terus menurun. Melalui alur cerita yang emosional dan penuh makna, film ini secara gamblang memotret realitas perjuangan, pengorbanan, dan konflik moral yang kerap dialami oleh kaum urban modern dalam menjaga keseimbangan antara karier dan pengabdian keluarga.

Proyek idealis ini lahir langsung dari buah pemikiran dan filosofi personal Ronny Soetanto yang bertekad menghadirkan sebuah representasi nyata mengenai sisi kemanusiaan terdalam dari industri pelayanan. Guna menerjemahkan gagasan premium tersebut ke dalam estetika visual berstandar internasional, ARM Hospitality Indonesia menggandeng rumah produksi terkemuka asal Singapura, yakni 52 Studios Singapore. Sinergi lintas negara ini dipimpin langsung oleh sutradara Cleve Low dan produser Goh Wei Woon, menghasilkan sinema edukatif yang tidak sekadar menghibur, melainkan mampu menyentuh sanubari pemirsa.

Pemilihan judul Rumah Kedua sendiri membawa pesan simbolis kuat bahwa sebuah tempat persinggahan tidak boleh sekadar menjadi bangunan fisik atau ruang komersial, melainkan harus mampu mentransformasikan diri menjadi suaka yang menghadirkan kehangatan, kepedulian tulus, dan makna mendalam bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Dalam sesi konferensi pers pasca-penayangan perdana, Produser Eksekutif film ini, Ronny Soetanto, mengungkapkan bahwa inspirasi utama datang dari komitmen keseharian para pekerja perhotelan yang selalu mendedikasikan hidupnya untuk melayani orang lain dengan penuh ketulusan hati.

BACA JUGA:  375 Peserta Ambil Bagian di Lomba Burung Berkicau dalam Rangka HUT RI dan HUT FKPPI Bali

"Lima tahun lalu, saya bermimpi menghadirkan sebuah cerita yang mampu merepresentasikan nilai-nilai kehidupan yang kami pegang teguh di ARM Hospitality. Kisah ini penting diceritakan karena industri kami berakar pada manusia, dan kami ingin mengingatkan semua orang untuk mengejar passion tanpa melupakan fondasi utama kita, yaitu integritas, kasih sayang, dan keluarga,” jelasnya.

Di balik keindahan visualnya, proses produksi film ini tidak lepas dari berbagai tantangan teknis maupun non-teknis dalam menyatukan standar kerja multinasional. Produser Goh Wei Woon memaparkan bahwa mengemas sebuah visi konseptual yang sangat personal dari seorang CEO menjadi produk sinematik global berdurasi pendek membutuhkan manajemen produksi yang sangat presisi dan kompromi kreatif yang matang. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah bagaimana menjembatani perbedaan kultural antara Singapura dan Indonesia agar esensi lokalitas cerita tetap terjaga secara autentik di layar kaca.

"Tantangan terbesar kami adalah memadukan visi filosofis yang mendalam dari Pak Ronny dengan dinamika produksi lintas negara agar selesai tepat waktu tanpa mengurangi kualitas estetika. Kami dituntut mengemas pesan humanis yang kompleks ke dalam durasi film pendek, namun tetap mempertahankan kekuatan emosional di setiap adegannya,” ungkapnya.

Sutradara Cleve Low memegang peranan krusial dalam mengeksekusi naskah yang terinspirasi dari mozaik kisah nyata tersebut menjadi bahasa visual yang universal. Cleve Low menjelaskan bahwa pendekatan penyutradaraannya berfokus pada kejujuran akting dan detail atmosfer visual guna membangun koneksi emosional yang erat dengan penonton. Ia sengaja menghindari dramatisasi yang berlebihan agar realitas dilema sosial yang dihadapi tokoh utama dapat tersampaikan secara natural dan menggugah empati kolektif pemirsa.

"Untuk terhubung secara emosional dengan penonton, saya berfokus pada kejujuran emosi dari kisah nyata ini. Kami membangun ruang di mana penonton tidak sekadar melihat karakter di layar, tetapi merasakan langsung beban pilihan, kerinduan, dan dilema moral yang dihadapi tokoh utama secara personal,” ucapnya.

BACA JUGA:  Tjok Bagus Membuka Tahun Baru Dengan 'Sorak Sorai'

Kekuatan narasi film ini juga ditopang oleh performa gemilang dari aktor Wahyu Aristiawan yang memerankan tokoh utama bernama Baskara. Karakter Baskara digambarkan sebagai representasi dari generasi muda ambisius yang terjebak di persimpangan jalan antara tanggung jawab moral kepada orang tua dan panggilan profesionalnya. Wahyu mengakui bahwa mendalami karakter ini memberikan refleksi spiritual tersendiri baginya mengenai arti sesungguhnya dari sebuah pilihan hidup dan pengorbanan masa muda.

"Saya sangat tertarik pada karakter Baskara karena konflik batinnya sangat nyata dan relevan dengan banyak anak muda zaman sekarang. Dari memerankannya, saya belajar bahwa keberhasilan sejati di perantauan tidak akan pernah terasa utuh jika kita mengorbankan atau melupakan akar keluarga yang membentuk kita,” bebernya.

Pesan edukatif yang tidak kalah kuat juga datang dari aktor Husni Wardana Holle, yang memerankan tokoh General Manager, sebuah representasi figur mentor pelindung di dunia kerja. "Saya berharap penonton, khususnya para pemimpin di industri kerja, melihat bahwa seorang General Manager bukan hanya pengawas operasional, melainkan seorang mentor dan pelindung. Kepemimpinan yang sejati harus didasari oleh empati mendalam; kita harus mampu mendeteksi luka yang disembunyikan oleh staf kita dan memberikan mereka ruang serta dukungan moral yang tulus," kata Husni, menekankan pentingnya kesehatan mental karyawan.

Aspek keunikan lain dari film ini ditunjukkan oleh keterlibatan Randy Tazly, seorang profesional dari industri perhotelan riil yang melakukan debut aktingnya sebagai tokoh Agus. Randy membawa perspektif industri yang orisinal ke dalam set film, menjadikan interaksi antarpemain terasa sangat organik. Bagi Randy, keterlibatannya dalam proyek ini merupakan sebuah penegasan identitas profesi karena plot yang disajikan sangat identik dengan dinamika yang dihadapinya sehari-hari di dunia hospitality kerja nyata.

BACA JUGA:  Praktisi Beberkan Tips Jitu Ngonten Berbahasa Bali Agar "Cuan"

"Sebagai praktisi perhotelan yang baru pertama kali berakting, kisah 'Rumah Kedua' ini terasa sangat personal dan nyata bagi saya. Apa yang dialami tokoh-tokoh di film ini adalah cerminan dari keseharian kami di industri, di mana kami dituntut menciptakan rasa rumah yang nyaman bagi tamu, seraya mengelola kerinduan pada rumah kami sendiri,” ujarnya.

Secara holistik, karya sinematik ini menggaungkan pesan filosofis utama yang menjadi landasan operasional korporasi, yakni: "Hospitality is not about service, it is about commitment, integrity, passion and love." Melalui penegasan manifesto ini, ARM Hospitality mengedukasi publik bahwa industri pelayanan sejati bukan sekadar tentang prosedur formal atau keramahan artifisial, melainkan sebuah komitmen luhur untuk melayani sesama dengan ketulusan hati, menjunjung integritas moral, memelihara gairah untuk berkembang, serta menebarkan kasih sayang sejati.

Keberhasilan pelaksanaan Gala Premiere ini bukanlah akhir, melainkan awal dari rangkaian perjalanan panjang film Rumah Kedua dalam mengedukasi dan menjangkau audiens masyarakat luas secara global. Manajemen ARM Hospitality menaruh harapan besar agar sinema edukatif ini dapat berfungsi sebagai katalisator perubahan sosial yang mampu menginspirasi publik, memperkuat rasa empati antarsesama, serta senantiasa mengingatkan masyarakat bahwa seberapa jauh pun jarak yang ditempuh untuk mengejar mimpi, nilai-nilai kemanusiaan dan kehangatan sebuah keluarga harus tetap dijaga, dihormati, dan diwariskan ke generasi masa depan. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top