Wika pun menyebut, kondisi lainnya terjadi ketika di suatu wilayah sedang ada rangkaian upacara seperti ngenteg linggih maupun ngusaba sehingga ada nyengker setra. Dalam kondisi tersebut, masyarakat harus menunggu hingga seluruh rangkaian upacara selesai sebelum dapat melaksanakan ngaben.
Wika juga mengatakan, Setra Tamiu Batan Kendal nantinya dirancang agar seluruh rangkaian pelaksanaan ngaben dapat dilakukan dalam satu kawasan.
Konsep tersebut mencakup kebutuhan upacara seperti tempat pemalungan atau pembakaran, bale pemiosan, tempat banten hingga kebutuhan tirta kahyangan tiga, tirta pangentas.
Termasuk juga prosesi nganyud yang jaraknya hanya 100 meter dari lokasi ngaben.
Bahkan, paket pelayanan juga dirancang mencakup banten, sulinggih, dan pemangku, kebutuhan sesari, serta kajang apabila diperlukan. "Dari hasil perhitungan Yayasan Gases, ngaben dilaksanakan dengan menyiapkan Rp15 juta. Sudah termasuk banten, tempat untuk pemalungan atau pembakaran, bale pemiosan, genah banten, sesari," jelasnya.
Biaya tersebut, lanjutnya, dihitung agar pelaksanaan ngaben dapat dijangkau masyarakat dan tidak menjadi beban yang terlalu berat. "Tujuan utama kerja sama tersebut bukan mencari keuntungan semata," jelasnya, seraya menegaskan untuk saat ini, program tersebut masih dalam proses persiapan. "Kami baru selesai melaksanakan upacara bumi suda, dan juga guru piduka di pura kahyangan," paparnya.
Selama ini Yayasan Batan Kendal memiliki kepedulian terhadap warga Banjar Suwung Batan Kendal yang meninggal dunia. Bagi warga banjar yang meninggal, yayasan memberikan santunan untuk membantu pelaksanaan ngaben sebesar Rp 18 juta. "Dukungan juga datang dari uang suka duka masyarakat banjar dengan total Rp 5,5 juta, termasuk dari Pasar Suwung Batan Kendal juga turut membantu," pungkasnya. (Car)










