Menanggapi aspirasi tersebut, Yasa Adi Susanto alias Bro Adi, mengungkapkan, dari segi luas wilayah, Denpasar termasuk kota kecil, sehingga tidak terlalu sulit mengaturnya.
Ia sependapat dengan aspirasi Semeton Pulasari Batan Celagi tentang penyetaraan hak pendidikan masyarakat dengan cara menghapus dikotomi pendidikan.
"Antara sekolah negeri dan swasta tidak lagi ada dikotomi. Agar masyarakat tidak berlomba-lomba untuk bersekolah ke sekolah negeri saja. Biaya pendidikan akan ditanggung pemerintah," tegasnya.
Jika diberikan mandat oleh warga kota, pihaknya berjanji menggratiskan biaya pendidikan untuk anak SD maupun SMP.
Sesuai peraturan perundang-undangan minimal anggaran untuk biaya pendidikan 20 persen dari APBD. Dan layanan kesehatan juga akan digratiskan.
Ia mengungkapkan sekitar 10 persen warga Kota Denpasar belum memegang kartu kesehatan, sementara yang lainnya sudah tercover kartu Indonesia sehat (KIS), sisanya akan ditanggung Pemerintah Kota Denpasar.
Bro Adi pun menjamin, ia dan pasangannya akan bekerja keras karena sudah terbiasa mandi keringat kala bekerja di luar negeri.
Bro Adi punya tips bahwa bangun pagi adalah salah satu kunci sukses seorang pemimpin.
"Dari kecil saya sudah biasa bangun jam 4 pagi. Nanti kalau jadi pemimpin di Denpasar, saya jam 4 sudah keliling mengecek situasi, misalnya sampah dan sebagainya. Nanti tinggal telpon kadisnya," kata dia.
Ia mengingatkan, pemimpin adalah pelayan. Posisi ini jangan sampai dibalik. Layaknya seorang pelayan, ia wajib bangun terlebih dulu daripada bos-nya, yaitu rakyat itu sendiri.










