Utsawa Dharmagita Bakal Dibuka 11 September 2026, Hadirkan Inovasi Terbaru

IMG-20260823-WA0021
IB Alit Suryana. [foto: ist/dok]

*Utsawa Dharmagita mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, kegiatan ini tidak hanya menampilkan kemampuan melantunkan sastra keagamaan, tetapi juga mengajak masyarakat memahami serta mengimplementasikan nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.

DENPASAR-fajarbali.com | Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) kembali menggelar Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII tahun 2026.

UDG 2026 direncanakan dibuka 11 September 2026 sebagai sebagai ruang pelestarian tradisi lisan sekaligus penguatan nilai agama, seni, sastra, dan karakter masyarakat Bali.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, IB. Alit Suryana, S.Ag., M.Si., didampingi Kepala Bidang Dokumentasi dan Sejarah, I Made Dana Tenaya, di Denpasar, Minggu (23/8).

Alit Suryana memaparkan, UDG kali ini mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, kegiatan ini tidak hanya menampilkan kemampuan melantunkan sastra keagamaan, tetapi juga mengajak masyarakat memahami serta mengimplementasikan nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.

"UDG XXXIII akan berlangsung pada 11–16 September 2026 di UPTD Taman Budaya Provinsi Bali," jelas Alit Suryana.

Alit Suryana berpandangan, dharmagita memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai budaya. Dharmagita bukan sekadar seni suara atau pertunjukan sastra keagamaan, melainkan media pembelajaran moral, etika, sradha, dan bhakti yang diwariskan secara turun-temurun.

"Melalui dharmagita, nilai-nilai yang bersumber dari sastra keagamaan disampaikan dalam bentuk nyanyian suci yang memiliki kekuatan estetika sekaligus spiritual. Harapannya, nilai tersebut mampu membentuk kesadaran diri dan karakter masyarakat,” kata dia.

Ia menjelaskan, tema “Dharmagita Atmanam Dharma” memiliki keterkaitan erat dengan semangat Atma Kerthi dalam pembangunan kebudayaan Bali. Keduanya menempatkan manusia sebagai bagian utama dalam proses pemuliaan kehidupan melalui penguatan nilai budaya dan spiritual.

Pelaksanaan UDG XXXIII, lanjutnya, tidak hanya berorientasi pada kompetisi membaca sloka, melantunkan kakawin, atau menampilkan kemampuan seni vokal keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi upaya membangun generasi Bali yang memahami akar budayanya serta mampu menerapkan nilai dharma dalam kehidupan modern.

BACA JUGA:  Bupati Giri Prasta Serahkan Dana Motivasi Ogoh-Ogoh 2020 Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Bali

Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, menegaskan bahwa UDG merupakan bagian dari upaya penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali.

“UDG tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi menjadi ruang pelestarian tradisi lisan sekaligus penguatan nilai agama, seni, sastra, dan karakter generasi muda,” jelasnya.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, yang memberikan perhatian terhadap berbagai bentuk warisan budaya seperti sloka, palawakya, gaguritan, kakawin, kidung, dan dharmawacana.

UDG XXXIII melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa, baik dari kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Para peserta tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga menjalani proses pembinaan untuk memahami makna dari dharmagita yang dibawakan.

Tahun ini, UDG XXXIII menghadirkan 11 bidang lomba dengan 37 kategori. Materi yang diperlombakan antara lain membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharmawacana Bahasa Bali, dharmawacana Bahasa Inggris, menghafal sloka, dharmawiwada, serta dharmacarita.

Para pemenang nantinya akan dipersiapkan menjadi wakil Provinsi Bali pada ajang Utsawa Dharmagita tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 di Palu Sulawesi Tengah.

Selain perlombaan, UDG XXXIII juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung. Pembukaan pada 11 September 2026 oleh Gubernur Bali akan dimeriahkan sasolahan yang dipersembahkan Sanggar Seni KOKAR. Pertunjukan tersebut menjadi penanda bahwa UDG tidak berdiri sebagai kegiatan kompetisi semata, tetapi menjadi bagian dari ekosistem seni budaya Bali.

Rangkaian sasolahan juga kembali digelar pada 15 September melalui kolaborasi dengan UPTD Taman Budaya Provinsi Bali. Pertunjukan akan memadukan drama, tari klasik Bali, serta iringan gamelan sebagai bentuk pertemuan antara tradisi dan kreativitas seni pertunjukan.

BACA JUGA:  Art & Bali Resmi Dibuka, Nuanu Hadirkan Ratusan Seniman Berbagai Negara

Inovasi baru dalam pelaksanaan UDG XXXIII tahun ini adalah penyelenggaraan seminar dharmagita pada 15 September 2026. Seminar tersebut menjadi ruang akademik untuk membahas nilai, perkembangan, serta strategi pelestarian dharmagita agar tetap relevan dengan perubahan zaman.

Kegiatan seminar akan melibatkan sekitar 300 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, pendidik, dan masyarakat umum. Melalui forum ini, dharmagita tidak hanya dipertunjukkan dan dilombakan, tetapi juga dikaji serta dipahami maknanya.

Puncak kegiatan UDG XXXIII akan ditutup pada 16 September 2026 dengan penyerahan penghargaan kepada para juara. Penghargaan tersebut direncanakan diberikan oleh Gubernur Bali bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Melalui UDG XXXIII, Pemerintah Provinsi Bali berharap dharmagita tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Sebab, tradisi tidak hanya bertahan karena diwariskan, tetapi juga karena dipahami, dihayati, dan mampu memberi makna bagi kehidupan generasi masa kini maupun masa depan. [gde]

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top