UPMI Bali Hidupkan “Bima Swarga”, Tafsir Sastra dalam Sendratari Sarat Makna

IMG-20260207-WA0004
Kisah klasik Bima Swarga dari khazanah sastra Bali dihidupkan kembali oleh seniman-seniman muda Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali.

DENPASAR-fajarbali.com | Kisah klasik Bima Swarga dari khazanah sastra Bali dihidupkan kembali oleh seniman-seniman muda Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali melalui sendratari yang digarap matang dan penuh pesan moral. Pementasan ini hadir dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (5/2/2026).

Pergelaran bertajuk Bima Swarga itu tampil sebagai tontonan sekaligus tuntunan. Diiringi Gamelan Semarandana yang lembut dan sejuk, panggung Ksirarnawa sore itu berdenyut. Tepuk tangan penonton—meski tak memadati ruangan—cukup menghidupkan energi para penari yang mengekspresikan kisah lewat gerak, ritme, dan suasana dramatik.

Tanpa dialog verbal, pesan cerita mengalir kuat. Seorang dalang, tukang tandak, serta tiga gerong perempuan mempertebal dimensi dramatik dan pengisahan. Tata musik tak sekadar mengiringi gerak, tetapi membangun suasana tiap adegan, mengatur ritme tari, hingga menegaskan karakter tokoh. Koreografi yang tertata rapi berpadu dengan komposisi musik, membuat alur cerita tetap terbaca jelas oleh penonton.

“Sendratari ini mengangkat karya sastra berbasis kearifan lokal Bali, Bima Swarga, dan kami ramu selaras dengan tema Bulan Bahasa Bali VIII, Atma Kerthi,” ujar Art Director Dr. I Gusti Darma Putra.

Secara alur, garapan dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama menghadirkan flash back dan pembuka: kebimbangan Bima yang teringat Pandu dan Dewi Madri, disertai simbol kemunculan kupu-kupu di istana. Bagian kedua membawa penonton ke suasana pertemuan Pandawa, dengan kegelisahan terkait amanat Dewi Kunti untuk mengutus putranya menuju Yama Loka. Bima yang murka akhirnya menyadarkan saudara-saudaranya untuk bersama menempuh perjalanan ke Swarga Loka.

Bagian ketiga menampilkan Yama Loka dengan figur raksasa dan satu atma, sarat pesan moral sebagai pedoman hidup. Bagian keempat ditutup dengan peperangan di Yama Loka yang dramatik, termasuk adegan penolakan Bima melakukan sembah bakti dengan tangan ketiga—penegasan karakter dan konflik batin tokoh.

BACA JUGA:  Konservasi Lontar, Lestarikan Warisan Leluhur

Gung Ade Dalang menjelaskan, fokus garapan tak hanya pada cerita besar Bima Swarga, tetapi juga mengeksplorasi maskot Bulan Bahasa Bali VIII: kupu-kupu. “Dalam kepercayaan kearifan lokal Bali, kupu-kupu yang masuk pekarangan rumah diyakini sebagai tanda kehadiran leluhur,” ujarnya.

Simbol kupu-kupu dihadirkan di awal, tengah, hingga akhir pergelaran—termasuk pada adegan peperangan Cikrabali—sebagai metafora spirit leluhur yang memberi jalan dan kekuatan bagi keturunan. “Atma Kerthi adalah pemuliaan dan pemurnian jiwa. Dalam konteks Bima Swarga, intinya adalah nyupat Pandu dan Dewi Madri agar dilinggihkan dan diupacarai,” jelasnya.

Koordinator pergelaran I Gede Gusman Adi Gunawan menyebut, pementasan ini melibatkan 53 orang—terdiri dari 33 penari dan 23 penabuh—melibatkan mahasiswa dan dosen. Garapan dikreatori Gung Ade Dalang (konseptor), Dek Gung (koreografer), dan Ketut Lanus (komposer). Meski menghadapi kendala jadwal praktik perkuliahan mahasiswa semester ganjil, proses kreatif tetap berjalan solid.

Mahasiswa juga diberi ruang sebagai penata gerak di bawah bimbingan dosen. Selain pengalaman artistik, karya ini menjadi ajang apresiasi dan pembelajaran kolaboratif lintas peran.

Lewat Bima Swarga, UPMI Bali tak sekadar memanggungkan kisah klasik, tetapi menegaskan kembali makna Atma Kerthi—bahwa pemuliaan jiwa dan ingatan pada leluhur tetap relevan, bahkan di tengah zaman yang terus berubah. (rel)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top