Kegiatan ini melibatkan tiga banjar sebagai pengempon, yakni Banjar Tatak, Banjar Bantas, dan Banjar Manukaya Let. Selain itu, terdapat empat banjar pengemong, yakni Desa Balet, Penempan, Calo, dan Tegal Payang.
Mawi Arnata mengatakan pelaksanaan karya ini menjadi pengalaman penting bagi masyarakat karena merupakan kali pertama Nyenuk Ngingkup dilaksanakan di Desa Adat Manukaya Let. Ke depan, masyarakat telah bersepakat untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut dan melaksanakannya secara berkala, termasuk dengan dukungan masyarakat serta sumber pendanaan yang tersedia.
Ia menegaskan, pelaksanaan upacara mengedepankan ketulusan dan hasil karya masyarakat sendiri. Berbagai sarana upacara dan persembahan dibuat oleh warga, bukan sekadar membeli jadi, sehingga proses tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk bergotong royong dan mempertahankan keterampilan tradisional.
Menurut Mawi Arnata, pelaksanaan karya juga memiliki landasan sejarah. Prasasti berupa batu bertulis di Pura Sakenan menyebut keberadaan kawasan Tirta Empul yang berkaitan dengan masa pemerintahan Sri Candrabaya Singha Warmadewa sekitar tahun 962 Masehi.
Bagi masyarakat Manukaya Let, jejak sejarah dan tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga warisan leluhur bukan hanya soal mempertahankan upacara, tetapi juga menjaga identitas dan kebersamaan masyarakat. [rel]










