Forum ini juga membuka ruang bagi peneliti muda dan mahasiswa untuk berkontribusi dalam pengembangan inovasi teknologi kelauta
Acara ini diharapkan menghasilkan rekomendasi berbasis sains yang dapat mendukung pengelolaan laut Indonesia secara berkelanjutan/ memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim/ serta menjaga keberlanjutan pangan biru bagi generasi mendatang.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengaku terbuka menerima masukan dari semua pihak termasuk akademisi dan peneliti atas implementasi kebijakan ekonomi biru di sektor kelautan dan perikanan. Terutama yang kaitannya dengan upaya perlindungan ekosistem laut, pengembangan budidaya perikanan, hingga penguasaan teknologi dan inovasi untuk memperkuat daya saing hasil perikanan Indonesia di level global.
“Harapan saya, kami akan mendapatkan rumusan-rumusan pemikiran arahnya mau ke mana, bagaimana Indonesia dalam kurun waktu tertentu mampu menjaga laut kita supaya tetap sehat. Jika kita ingin memiliki keunggulan kompetitif seperti apa yang harus dikuasai,” kata Trenggono.
Melalui PIT ke-22 ISOI, Menteri Trenggono berharap para akademisi dan peneliti oseanologi dapat memberikan masukan berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat kebijakan kelautan Indonesia. Menurutnya, tantangan utama pengelolaan laut saat ini adalah meningkatnya tekanan aktivitas ekonomi seiring pertumbuhan penduduk dunia. Kondisi tersebut menuntut Indonesia menemukan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dan perlindungan ekosistem laut.










