Sinergi Lintas Sektor di World Ocean Day 2026, Menjaga Laut untuk Mengamankan Pangan Masa Depan

2026-06-05-at-22.48.50
Press conference Happy World Ocean Day, Coral Triangle Day & Road to Ocean Impact Summit 2026.

DENPASAR-fajarbali.com | Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng sejumlah organisasi lingkungan dan sektor swasta untuk menggerakkan aksi nyata penyelamatan laut. Kolaborasi besar yang melibatkan WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia ini digelar dalam rangka memperingati World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026.

Mengusung tema “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu”, puncak acara dan Road to Ocean Impact Summit akan diselenggarakan di Peninsula Island, ITDC The Nusa Dua, Bali, pada 7 Juni 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi interaktif antara pemerintah, akademisi, komunitas, generasi muda, hingga sektor swasta. Tujuannya adalah mendorong partisipasi aktif dalam konservasi, penanganan sampah, dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Sebagai pemanasan menuju acara puncak, rangkaian aksi penyelamatan laut telah bergulir sejak pertengahan Mei di 17 lokasi strategis di seluruh Indonesia. Wilayah tersebut meliputi Jakarta, Tangerang, Surabaya, Bali, Alor, Kupang, Wakatobi, Derawan, Moa, Paloh, Makassar, Sulawesi Tengah, Teluk Jor, Palopo, Labuan Bajo, Teluk Saleh, dan Ambon. Gerakan masif ini juga didukung oleh mitra lain seperti Save The Children, Delterra, EcoNusa, Marine Buddies, dan Plastic Free Ocean Network.

Berbagai program nyata di lapangan telah dilaksanakan, mulai dari gerakan Laut Sehat Bebas Sampah (Laut SEBASAH), Sekolah Pantai Indonesia, penanaman mangrove, hingga edukasi pengelolaan wilayah pesisir. Seluruh rangkaian kegiatan ini bertujuan mengubah seremonial perayaan menjadi dampak konkret bagi lingkungan. Melalui aksi ini, masyarakat disadarkan bahwa kelestarian laut berkorelasi langsung dengan ketersediaan pangan dan kesehatan manusia.

Analis Pengusahaan Jasa Kelautan Ahli Madya KKP, Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro, MM., menekankan bahwa laut yang sehat merupakan pilar strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah perairan yang lebih luas dari daratan, Indonesia sangat bergantung pada laut sebagai penyedia protein utama. “Nah, sumber daya ikan kita ini harus dijaga, sehingga harus ada upaya kita dalam rangka bagaimana menjaga laut ini supaya bersih,” ujarnya.

BACA JUGA:  Jaga Kesucian Pura Besakih, ITDC Perkuat Tata Kelola Sampah Karya Ida Bhatara Turun Kabeh

Lebih lanjut, Andry menjelaskan bahwa KKP saat ini tengah menggencarkan program "Sebasar" atau Laut Bebas Sampah. Program ini memfokuskan pengamatan dan penanganan pada empat titik krusial yang menjadi sumber kebocoran sampah ke laut. Keempat kawasan tersebut adalah aliran sungai, wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, serta pelabuhan dan pusat aktivitas tata niaga kelautan.

Andry mengingatkan bahwa sebagian besar sampah yang mencemari laut justru berasal dari aktivitas daratan yang terbawa aliran sungai. Oleh karena itu, ia mendesak adanya penanganan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Pola penanganan ini tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Apresiasi terhadap gerakan berbasis komunitas ini juga disampaikan oleh Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Ahmad Aris. Ia menilai partisipasi aktif masyarakat pesisir dan generasi muda di berbagai daerah membuktikan bahwa kesadaran lingkungan mulai tumbuh dari tingkat lokal. Langkah sederhana di tingkat tapak menjadi modal penting bagi keberhasilan program makro pemerintah.

“Gerakan menjaga laut akan semakin kuat melalui kolaborasi. Kami mengapresiasi dukungan para mitra, komunitas, generasi muda, dan masyarakat pesisir dari berbagai wilayah yang telah terlibat dalam berbagai aksi nyata... Sejalan dengan kebijakan ekonomi biru KKP, upaya pengurangan sampah masuk ke laut, penanganan sampah yang sudah ada di laut, rehabilitasi ekosistem pesisir, serta peningkatan kesadaran masyarakat perlu terus diperkuat,” kata Ahmad Aris.

Pada acara puncak di Peninsula Island nanti, edukasi publik akan dikemas secara menarik dan ramah keluarga. Panitia menyediakan ruang belajar langsung melalui diskusi interaktif bersama para ahli, workshop kreatif, pameran edukasi, hingga festival layang-layang spesies laut. Selain itu, pertunjukan budaya Wayang Samudera akan dihadirkan sebagai media kampanye lingkungan yang kreatif.

BACA JUGA:  Kodam IX/Udayana Dukung Aksi Bersih Pantai Bali, Wujud Sinergi TNI Jaga Lingkungan dan Pariwisata Nasional

Acara ini juga menjadi panggung bagi para pejuang lingkungan lokal untuk membagikan kisah sukses mereka dalam mengelola wilayahnya. Beberapa tokoh yang dijadwalkan berbagi ilmu antara lain Komang Ruditha Hartawan (TPST-3R Desa Adat Seminyak binaan CCEP Indonesia), Sumardin (Pokdarwis Rangko, Manggarai Barat), dan Christiani Valentine (BUMDes Manandang Kaliuda, Sumba Timur).

Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Provinsi Bali yang melihat laut sebagai aset multidimensi yang tak ternilai. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, menegaskan bahwa bagi Bali, laut bukan sekadar komoditas ekonomi pariwisata. Pengalaman pahit masa pandemi COVID-19 memberi pelajaran berharga bahwa Bali harus memperkuat sektor ekonomi kelautan yang berbasis keberlanjutan lingkungan.

“Laut ini sebagai sumber kehidupan juga, lebih jauh dari aspek ekologinya. Karena laut sendiri memiliki banyak kekayaan sumber daya alam yang memang sudah diwariskan. Kita tidak perlu menanam, tinggal bagaimana kita menjaga,” tegas Putu Sumardiana.

Sumardiana menambahkan, masyarakat Bali sebenarnya memiliki fondasi filosofis yang kuat untuk menjaga laut melalui kearifan lokal seperti Segara Kerthi dan tradisi Tumpek Uye. Namun, tantangan modern seperti pencemaran plastik tetap memerlukan perhatian serius. Ia memperingatkan bahaya laten mikroplastik yang kini mulai menyusup ke dalam rantai makanan manusia melalui ikan yang tercemar. “Karena sampah plastik itu menjadi mikroplastik yang diperoleh ikan. Sehingga dia akan berdampak kepada kesehatan manusia,” ucapnya.

Pendekatan edukasi melalui seni budaya juga menjadi sorotan dalam festival kali ini. I Kadek Dwi Armika, seorang seniman layangan terkemuka asal Bali yang merancang Festival dan Workshop Layangan bertemakan laut, menilai seni memiliki kekuatan tersendiri untuk menyentuh kesadaran personal masyarakat. “Melalui seni dan budaya, pesan konservasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah diterima. Festival Layangan Spesies Laut mengajak masyarakat untuk mengenal kekayaan biodiversitas laut Indonesia sekaligus memahami pentingnya menjaga habitat laut,” tuturnya.

BACA JUGA:  ACC Tanam 5.000 Mangrove dan Sokong UMKM di Kubu Raya

Melalui momentum perayaan global ini, seluruh pihak berharap kesadaran yang terbangun di Bali dapat meluas ke seluruh penjuru tanah air. Upaya kolektif ini diharapkan mampu mengamankan masa depan maritim Indonesia.

“Momentum World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026 ini menjadi refleksi bersama bahwa menjaga laut bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga memastikan sumber protein, nutrisi, dan penghidupan bagi jutaan masyarakat... Jadi kami mengajak masyarakat di Bali untuk hadir dan belajar bersama para ahli. Mari kita wujudkan laut Indonesia yang lebih sehat,” pungkas Dewi Lestari Yani Rizki selaku Chief Conservation Officer Yayasan WWF-Indonesia. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top