Tuli mendadak dapat mengalami kesembuhan total atau sebagian secara spontan pada sebagian kasus, tetapi dapat juga menetap menjadi tuli permanen pada sebagian sisanya. Untuk itu, seseorang yang mengalami tuli mendadak harus segera memeriksakan diri ke dokter. Oleh dokter, keluhan tuli mendadak akan dikaji secara lebih cermat dan akan dilakukan pemeriksaan pendengaran untuk melihat jenis penurunan pendengaran (konduktif sebagai akibat dari sumbatan pada telinga luar dan tengah atau sensorineural akibat kerusakan telinga dalam hingga pusat pendengaran di batang otak) dan seberapa berat kondisi ketulian yang dialami. Selain itu, tatalaksana dengan pemberian obat kortikosteroid melalui mulut, darah, atau bahkan gendang telinga, diketahui dapat memperbaiki kondisi pendengaran dan menurunkan risiko kejadian tuli permanen.
Meski demikian, tuli mendadak masih sering disepelekan oleh penderitanya. Atau, sering dianggap sebagai kondisi wajar yang terjadi akibat batuk pilek atau sumbatan kotoran telinga sehingga penderita tidak segera memeriksakan dirinya ke dokter hingga waktu yang lama. Padahal, terdapat periode jendela atau “window period” penanganan tuli mendadak hingga 2 minggu sejak gejala pertama kali muncul. Setelah periode tersebut, kemungkinan perbaikan pendengaran semakin menurun atau bahkan hilang sama sekali.
Lantas, apa yang perlu dilakukan jika anda atau seseorang di sekitar anda mengalami kondisi tuli mendadak tetapi belum memeriksakan diri ke dokter lebih dari 2 minggu sejak gejala awal? Jangan menyerah, anda atau kerabat tetap dapat datang ke dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Bedah Kepala Leher (THT-KL) untuk memeriksakan diri. Meski telah melewati periode jendela, terapi penyelamatan dengan pemberian oksigen hiperbarik masih mungkin dilakukan sesuai indikasi.










