Saat menderita TBC, wanita yang berprofesi sebagai guru ini bahkan seperti mayat hidup. Hanya tulang ditutupi kulit. “Ternyata kalau kita semangat dan rajin minum obat bisa sembuh kembali. Awalnya saya ingin operasi asam urat, setelah dilakukan pemeriksaan, malah yang muncul TBC. Saya sempat kaget. Di sini lah pentingnya cek kesehatan rutin bagi siapa saja,” sarannya.
Ayu Tuti Suryaningsih, Staf Puskesmas Kuta Utara yang khusus menangani penyakit TBC, mengungkapkan bahwa di tahun 2024 pihaknya telah memeriksa lebih dari 400 pasien dengan gejala TBC. Dari jumlah itu, 35 orang positif menderita TBC, yang mana 18 di antaranya berupa temuan langsung, sisanya rujukan dari rumah sakit.
Kabar baiknya, dari tahun 2023 ke 2024, tingkat kesembuhan pasien mencapai 100 persen. Ini disebabkan karena pasien sangat disiplin mengikuti anjuran petugas. Tuti meminta bagi siapa saja yang merasa batuk seminggu beruntun disertai dahak, badan agak panas, sedkit sesak dan nafsu makan berkurang agar segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat.
Pelayanan dan obat-obatan pasien TBC dilakukan secara gratis bagi siapa saja, karena menurutnya, sesuai arahan Presiden di tahun 2030 Indonesia bebas TB. “Ini merupakan program nasional. Meski tida punya BPJS Kesehatan, pelayanan prima tetap kami berikan bagi pasien TBC. Jangan ragu, pasti sembuh,” kata Tuti sembari menyarankan agar masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat meski pandemi telah berlalu. W-009










