Selanjutnya sidak telah dilakukan di kawasan Bandara Ngurah Rai. Kawasan ini memerlukan pasokan air sekitar 50 liter per detik. “Namun saat ini, air PDAM yang dimanfaatkan baru 23 liter per detik,” katanya.
Hal ini disebabkan adanya perbaikan dan pemasangan jaringan baru ke kawasan bandara. “Dari hasil penertiban yang dilakukan, Bandara Ngurah Rai siap memanfaatkan air PDAM 100 persen,” tegasnya.
Yang terbaru Kamis (28/2) kemarin, tim yang dikomandoi Dirum IA Eka Dewi Wijaya melakukan sidak ke Waterboom dan Sol Elite Paradiso Bali. Waterboom siap memanfaatkan pasokan air PDAM untuk menambah wahana air yang dibutuhkan.
Sementara di Hotel Sol Elite Paradiso Bali, semenjak ada pembangunan underpass jaringan terputus dan sejak itu hotel ini tak lagi menggunakan air PDAM. Temuan lainnya watermeter yang sebelumnya terpasang malah ditumpuk dengan bangunan sehingga watermeter tersebut tak kelihatan. Karena itu, PDAM pun melakukan pembongkaran dan pembacaan watermeter. Selain itu, hotel ini pun siap memanfaatkan air PDAM kembali.
Dengan adanya penertiban terhadap pelanggan dan calon pelanggan, pendapatan PDAM Badung pun melonjak. “Pendapatan PDAM pada Januari menembus Rp 19,5 miliar. Jumlah ini sesuai dengan target,” katanya.
Sebelum penertiban, pendapatan PDAM hanya Rp 18 miliar. Peningkatan pendapatan ini selain karena jumlah pelanggan dan penggunaan air meningkat, juga karena tarif air yang berlaku untuk kalangan industri jauh lebih tinggi dibanding dengan tarif air untuk rumah tangga. Tarif tertinggi dikenakan kepada hotel berbintang yang nilainya Rp 17.964 per meter kubik, sementara tarif untuk rumah tangga hanya Rp 2.235 meter kubik. (put)










