DENPASAR-fajarbali.com | Serangkaian memperingati Hari Tuli Nasional, Program Studi S1 Psikologi, Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial Universitas Bali Dwipa (UBAD), berkolaborasi dengan Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa (Psikiatri) Fakultas Kesehatan Universitas Udayana (Unud) serta Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) menggelar Seminar dan Mini Worksop, bertempat di Fakultas Kedokteran Unud, Kamis (19/2/2025).
Seminar mengusung tema "Memahami Fungsi Kognitif dan Perkembangan Anak Tuli: Peran Petugas Kesehatan Dunia Pendidikan dan Support System", itu menghadirkan narasumber I Gusti Agung Yunita Utami, S.Psi., M.Psi., Psikolog dengan materi "Peran Keluarga dalam Mendampingi Anak Tuli untuk Tumbuh Optimal".
Kemudian Luh Kadek Pande Ary Sulilawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dengan materi "Peran Psikolog dalam Mendukung Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikososial Komunitas Tuli. dr. Anindya, Sp.K.J., menyampaikan materi "Speak with Your Hands, Care with Your Heart: Nakes Ramah Individu Tuli, serta Gede Ade Putra Wirawan, A.Md., S.Kom., dari Pusbisindo dengan materi "Bahasa Isyarat sebagai Fondasi Perkembangan Kognitif, Kesehatan Mental, dan Akses Layanan bagi Anak Tuli".
Ketua panitia kegiatan Kadek Agustini Arta didampingi sekretaris panitia, Anak Agung Sg. Citra Chrisna, mengungkapkan kegiatan ini dihadiri 120 lebih peserta dari mahasiswa, akademisi, tenaga kesehatan hingga komunitas tuli.
Tujuan utama kegiatan ini, menurut Agus, untuk membangkitkan empati kepada penderita tuli karena mereka juga punya potensi yang sama dengan manusia pada umumnya.
Diharapkan juga setelah seminar ada perhatian khusus dari pemangku kebijakan untuk menghadirkan layanan umum yang ramah tuli. Kuncinya ada pada penguatan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi utama mereka.
Rektor UBAD Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sucipta, MP., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. UBAD, menurutnya, selalu membuka ruang kolaborasi bagi semua pihak guna memberikan kontribusi atau dampak nyata bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Seminar kali ini juga dijadikan momentum inspirasi bagi komunitas tuli agar tetap semangat menggapai cita-cita. "Saya katakan hidup ini indah. Mereka (tuli) pasti tidak meminta dilahirkan seperti itu. Kalau bisa memilih pasti minta sempurna. Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan. Tuhan Maha Adil," jelas Rektor Prof. Sucipta.
Pihaknya mendorong agar di setiap fasilitas umum ada fasilitas petugas bahasa isyarat. Hal ini bertujuan agar layanan bersifat inklusif dan adil bagi semua.
Sementara itu, salah satu nara sumber Agung Yunita, memastikan bahwa anak tuli juga berpotensi besar meraih cita-cita yang diharapkan. Karenanya ia berharap dukungan keluarga terus diberikan. "Banyak kok anak-anak tuli yang hebat," jelas Agung Yunita.
Agung Yunita mencoba mengajak melihat dari perspektif berbeda, bahwa tuli justru sebuah kelebihan. Karena jika ada salah satu fungsi panca indra yang kurang, maka fungsi indra lain pasti ada kelebihan. Itulah yang mesti dimaksimalkan, bukan malah merasa menjadi orang gagal.
Ade Wirawan, nara sumber dari Pusbisindo, mengungkapkan, masih banyak yang keliru dan tidak paham dengan budaya tuli. Orang tuli pada dasarnya sama dengan manusia lain yang tidak tuli, hanya saja menggunakan bahasa isyarat. "Disabilitas tuli bukan hambatan fisik, tapi hambatan lingkungan dan sistem layanan kesehatan," tegas Ade.
Ade mengungkapkan sejumlah data mencengangkan. Disabilitas tuli di Indonesia lebih dari 2,5 juta orang. Data juga menunjukkan mayoritas responden tuli lebih dari dua pertiga (66,4 %) terindikasi mengalami masalah kesehatan mental. Ini menandakan adanya persoalan akses dan sistem layanan yang belum inklusif.
Ke depan, ia berharap tenaga-tenaga kesehatan dibekali skill bahasa isyarat untuk memudahkan komunikasi bagi disabilitas tuli. Ade juga memaparkan, belajar bahasa isyarat memiliki banyak manfaat. Di antaranya, memperkaya ekspresi, memperluas jaringan, komunikasi tanpa hambatan serta menyeimbangkan otak kanan dan kiri.
Pada seminar itu, Ade juga mengajarkan praktik bahasa isyarat. Peserta tampak antusias karena terlibat langsung dalam interaksi. Isyarat yang diajarkan mulai dari hal paling sederhana, misalnya memanggil seseorang disabilitas tuli, caranya dengan menepuk halus pundaknya.
Jika mengobrol mesti saling bertatapan dengan tetap menjaga kontak antar-mata. Ade mengatakan bahasa isyarat di setiap daerah atau negara berbeda-beda layaknya bahasa umum.
Ade berhasil membuktikan diri dengan keterbatasan pendengaran, ia mampu mengenyam pendidikan tinggi serta membangun karir.
Seminar ini dibuka Dekan Fakultas Kedokteran Unud Prof. Dr. dr. I Gede Eka Wiratnaya, Sp.O.T., Subsp. Onk. Ort. R (K). Fakultas Kesehatan Unud mengapresiasi langkah kolaborasi ini sebagai upaya bersama meningkatkan kualitas hidup disabilitas tuli.










