Dilanjutkan dengan pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi dan biourine dari urine sapi. Kegiatan ini dilanjutkan dengan praktikum dengan implementasi penanaman bibit di sawah serta melakukan evaluasi untuk mengukur efektivitas kegiatan yang telah dilaksanakan. Tim pengabdian mengklaim, masyarakat sekitar sangat antusias menyambut program tersebut.
Ketua kelompok petani Banjar Kelecung Kelod, Didik menilai pertanian organik memiliki prospek bisnis yang bagus, harga hasil pertanian organik dipasar cukup tinggi, hal ini akan memberi keuntungan yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani organik.
Hal yang sama juga di sampaikan warga petani lainnya, Yuni. Kata Yuni, jika dibandingkan dengan pertanian anorganik, harga jual hasil pertanian alami bisa mencapai dua kali lipat bahkan lebih.
“Dalam penerapan sistem pertanian organik, petani tidak membutuhkan lahan yang luas, terlebih dalam satu lahan yang bisa ditanami dengan berbagai jenis tanaman,” imbuh dosen pengabdi, Dean Ananda.










