"Obat yang kosong itu adalah obat di luar Fornas, salah satunya jenis suplemen dalam bentuk tablet. Sementara untuk versi injeksinya masih tersedia. Kami tidak bermaksud meremehkan, namun kami memprioritaskan obat-obatan darurat agar pelayanan pasien tetap berjalan," jelas dr. Sudiarta mengklarifikasi kesan di masyarakat.
Guna mengatasi krisis ini, pihak manajemen RSUD Tabanan menyebut penyelesaian data klaim bulan Desember yang diharapkan cair pada pertengahan Maret ini untuk segera dibayarkan ke rekanan agar blokir pengadaan dibuka kembali.
Selain itu, mengingat statusnya sebagai BLUD murni yang selama ini tidak menerima subsidi operasional dari APBD (kecuali gaji pegawai), RSUD Tabanan telah mengajukan bantuan dana sebesar Rp 60 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan.
“Kami sudah mengajukan subsidi sekitar Rp60 miliar untuk meringankan beban operasional. Astungkara, mudah-mudahan bisa terealisasi di anggaran perubahan sehingga ketersediaan obat kembali stabil,” pungkasnya.(tik)










