Terbentuk Wadah Guru Besar Srikandi LLDikti VIII, Gebrakan Perdana Sambut International Women Day Libatkan 40 Negara

IMG-20260304-WA0000
28 anggota Guru Besar Srikandi LLDikti VIII berasal dari PTS Bali-NTB.

DENPASAR-fajarbali.com | Belum terlalu jauh dari nuansa tahun baru 2026, kejutan mewarnai dunia pendidikan tinggi di Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) atau wilayah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) VIII. 28 orang guru besar/profesor perempuan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menyatukan diri dalam wadah "Guru Besar Srikandi LLDikti VIII".

Meski beranggotakan para pakar lintas bidang, ide ini justru muncul secara tiba-tiba. Inisiatornya adalah Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, MM., M.Hum., yang juga Rektor Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar, Bali.

Di suatu pagi, Februari 2026, teh di cangkirnya belum habis. Matahari menyapa lembut. Daun kamboja kering jatuh di halaman rumahnya. Pikiran "liar" seorang Tirka Widanti mengembara. Seketika terbesit keinginan menghimpun guru besar perempuan di lingkup LLDikti VIII.

Tirka Widanti yang dikenal tidak suka mengulur waktu dalam mengeksekusi ide-idenya, langsung menghubungi satu persatu koleganya. Dalam hitungan jam, wadah intelektual baru ini pun terbentuk. Semua sasaran se-ia se-kata.

Untuk mengawali kegiatan, Guru Besar Srikandi LLDikti VIII segera menggelar pertemuan secara daring. Tujuan awalnya menyatukan persepsi serta langkah yang dilakukan ke depannya.

Spirit kegiatan perdana forum ini dalam rangka peringatan International Women Day - 8 Maret 2026. Tirka Widanti dengan network internasionalnya akan merayakan International Women Day Senin, 9 Maret 2026 di Green School bersama sekitar Ibu-ibu dari 40 negara.

Guru Besar Srikandi LLDikti VIII bukan organisasi perlawanan seperti organisasi pra-kemerdekaan. Keberadaannya justru mempertegas dampak nyata yang diberikan bagi pembangunan bangsa dan negara.

Jika dibahasakan secara sederhana, Guru Besar Srikandi LLDikti VIII adalah kumpulan ibu rumah tangga yang memiliki keahlian lebih. Namun jika dibahasakan lebih tinggi lagi, mereka adalah kumpulan pakar yang siap memberikan perubahan besar.

BACA JUGA:  Bahasa Daerah Sedang Tidak Baik-baik Saja

Sebagai organisasi akademisi, program kerja yang dirancang tentu tidak lepas dari pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di luar itu, diharapkan mampu menjadi inspirasi seluruh perempuan di tanah air bahwa perempuan juga punya hak yang setara dengan kaum adam.

Harus diakui, selama ini perempuan masih dianggap kaum lebih lemah dari laki-laki. Padahal perempuan bukan sekadar jenis kelamin biologis, melainkan individu dengan potensi, hak, dan peran sosial-budaya yang setara dengan laki-laki.

Kesetaraan gender menuntut penghapusan diskriminasi, stereotip, serta pembatasan peran berdasarkan gender di bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan pribadi. Ini menekankan bahwa kemampuan dan hak seseorang untuk berkembang tidak boleh dibatasi oleh label biologis.

Sampai saati ini, antara jenis kelamin dan gender berada di ruang abu-abu. Bias. Tidak jelas. Gender adalah peran yang dibentuk masyarakat, sedangkan seks (jenis kelamin) bersifat biologis. Peran seperti kepemimpinan atau domestik tidak seharusnya didasarkan pada jenis kelamin.

Dengan kata lain, perempuan berhak mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, kesehatan, karier, dan politik tanpa diskriminasi. Perempuan tidak melulu lemah lembut atau pasif, dan laki-laki tidak selalu harus dominan atau agresif. Bakat dan perilaku seseorang tidak terbatas oleh label gender.

Kesetaraan gender adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan yang memberdayakan perempuan untuk berkontribusi maksimal.

Bahkan lebih luas lagi, teks-teks agama, khususnya Hindu menegaskan bahwa perempuan harus dihargai. Dimana perempuan tidak dihargai, maka kehancuran di depan mata.

Dalam konteks kearifan lokal Bali, perempuan disebut "Luh". "Luh" juga dimaknai sebagai air sumber kehidupan. Itu sebabnya masyarakat Bali menyebut "Luh-luhan" [dibaca Loloan] pada muara sungai atau wilayah perairan pesisir di mana aliran air tawar dari sungai bertemu dengan air laut. Tempat bertemunya dua aliran kesuburan, sumber kehidupan dunia.

BACA JUGA:  Guru SD dan SMP di Klungkung, Dilatih Manfaatkan Kecerdasan Artifisial dalam Dunia Pendidikan

Lalu apakah sebuah kebetulan di Jembrana, Bali dan di Lombok NTB terdapat tempat bernama Desa Loloan? Orang bijak menyebut tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Jika terjadi, pastilah disengaja agar terjadi kebetulan itu.

Dalam sejarah pergerakan perempuan sebelum kemerdekaan, organisasi perempuan selalu identik dengan perjuangan masalah sosial dan pendidikan. Disiplin sejarah sebenarnya setingkat lebih tinggi dari semua jenis ilmu sosial lainnya.

Sebagai pengingat, organisasi perempuan pertama di Tanah Pertiwi kita, yakni Putri Mardika yang didirikan di Jakarta pada tahun 1912. Organisasi ini mendorong perempuan untuk berani di ruang publik, dan memperjuangkan pendidikan perempuan dengan tujuan meningkatkan martabat dan kesetaraan mereka dengan laki-laki.

Sejarah sudah menyodorkan fakta bahwa perempuan adalah pribadi yang individual yang dapat berdiri sendiri, terbukti dengan banyaknya buku yang ditulis tentang tokoh-tokoh perempuan.

Namun sayang, banyak yang tidak terekspos karena monopoli kaum laki-laki. Itu dulu. Sekarang tentu berbeda. Guru Besar Srikandi LLDikti VIII punya kesempatan luas mengakses media informasi.

 

Sebagai informasi, total PTS yang berada di bawah naungan LLDIKTI Wilayah VIII berjumlah 104 institusi. Jumlah Guru Besar 102, terdiri dari 74 laki-laki dan 28 perempuan. Angka ini mencakup para dosen tetap yayasan di PTS yang telah mencapai jenjang akademik tertinggi (Profesor) di wilayah Bali dan NTB.

Walau jumlah guru besar perempuan jauh lebih sedikit dari laki-laki, namun namun tren pengajuan jabatan fungsional ini terus meningkat setiap tahunnya di wilayah LLDikti VIII.

Berikut nama-nama anggota Guru Besar Srikandi LLDikti VIII: Prof. Ni Putu Tirka Widanti, Prof. Ade Maharini Adiandari (Universitas Ngurah Rai).

Prof. Ni Gst. Ag. Gde Eka Martiningsih,
Prof. I Gusti Ayu Ari Agung, Prof. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, Prof. Ni Putu Pandawani, Prof. Desak Putu Eka Pratiwi, Prof. Anak Agung Ayu Dian Andriyani, Prof. Ni Wayan Rustiarini, Prof. Ida Ayu Made Sri Widiastuti (Universitas Mahasaraswati).

BACA JUGA:  Menjelang Konferensi Studi Nasional PMKRI, Bahas 8 Isu Menuju Indonesia Emas

Prof. Ni Nyoman Juwita Arsawati, Prof. Ida Ayu Oka Martini, Prof. Luh Putu Mahyuni (Universitas Pendidikan Nasional), Ni Luh Made Mahendrawati, Prof. I Gusti Agung Putu Eryani, Prof. Luh Suriati, Prof. Ni Wayan Kasni (Universitas Warmadewa).

Prof. Ida Ayu Komang Arniati, Prof. Ida Ayu Gde Yadnyawati, Prof. Ni Made Indiani, Prof. Euis Dewi Yuliana, Prof. I Gusti Ayu Suasthi, Prof. Ni Wayan Karmini (Universitas Hindu Indonesia).

Prof. Ni Nyoman Karmini (IKIP Saraswati), Prof. Evi Triandini (ITB Stikom Bali), Prof. Luh Putu Widiastini (Stikes Bina Usada Bali), Prof. Baiq Fatmawati (Universitas Hamzanwadi) dan Prof. Citra Ayu Dewi (Universitas Pendidikan Mandalika).

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top