Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana saat menerima audiensi Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ni Luh Gede Sukardiasih yang didampingi Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Nyoman Riang Pustaka
SINGARAJA – sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com |Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menegaskan agar kader pendamping keluarga aktif mendata resiko stunting di Buleleng. Dari Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan tahun 2022, tingkat gangguan pertumbuhan anak atau yang disebut stunting di Kabupaten Buleleng berada pada angka 11 persen.
Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana berencana menurunkan seminimal mungkin. Hal itu dipertegas saat menerima audiensi Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ni Luh Gede Sukardiasih, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Nyoman Riang Pustaka, Ketua Forum Generasi Berencana (GenRe) dan Duta GenRe Buleleng Tahun 2022 di Rumah Jabatan beberapa hari yang lalu.
Selama ini penurunan angka stunting belum sebanding dengan penyerapan anggaran yang tinggi. Oleh karena itu Pj Bupati Lihadnyana menegaskan agar data stunting di Kabupaten Buleleng kembali di padankan. "Citra Buleleng buruk karena stunting. Anggaran juga terbuang sia-sia jika stunting tidak bisa ditekan. Atas dasar itu ternyata pembinaan kita juga kurang. Pendamping dari P2KBP3A jangan hanya menyasar keluarga yang dekat-dekat saja. Justru harus lebih aktif mencari di desa-desa terpencil,” tegasnya.










