Wiguna melanjutkan, tantangan lain juga datang dari menjaga fokus dan konsistensi anak-anak pemeran selama proses syuting berlangsung.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Wiguna melakukan pendekatan kerja yang lebih intensif: memberikan briefing mendetail kepada videografer mengenai ekspresi yang diinginkan pada setiap adegan, serta menggunakan alat bantu dengar untuk mendekatkan suara para pemeran anak sebelum memberikan arahan pengambilan gambar. Proses ini melibatkan videografer Tia sebagai rekan kerja utama di lapangan.
Tayang Perdana, Lalu Dapat Ditonton Publik
Film ini tayang perdana secara langsung di hadapan penonton pada acara Denpasar Youth Music & Character Awards 2026, sebelum nantinya diunggah ke kanal YouTube Sunar Sanggita Music agar dapat ditonton lebih luas oleh warga Denpasar maupun masyarakat Indonesia.
Bagian dari Konser Bertema Anti-Perundungan
Penayangan film ini merupakan salah satu momen puncak dari rangkaian Denpasar Youth Music & Character Awards 2026, konser bertema "Merdeka dari Perundungan: Gaungkan Toleransi dan Inklusi Melalui Seni Musik" yang turut menghadirkan kolaborasi 74 anak jenjang TK hingga SMA bersama 13 pengajar tunanetra Sanggar Musik Sunar Sanggita, ditambah sesi talkshow seputar kesadaran disabilitas untuk anak-anak.
Acara ini didukung oleh Living World Denpasar, Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Dinas Pendidikan Kota Denpasar, SMP Bali Dharma School, dan Yayasan Pendidikan Musik Lima Nada.
Sanggar Musik Sunar Sanggita didirikan oleh Wiguna dari keprihatinannya terhadap teman-teman seperjuangannya semasa sekolah di SLB yang memiliki bakat musik luar biasa namun kesulitan mendapatkan pekerjaan yang konsisten.










