GIANYAR-fajarbali.com | Stunting masih menjadi perhatian serius di Indonesia, termasuk di wilayah Bali. Upaya pencegahan tidak hanya bertumpu pada ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan penuh dari suami sebagai pasangan dan pendamping utama selama kehamilan, persalinan, masa nifas, dan menyusui.
Menyadari pentingnya hal ini, sekelompok dosen dan peneliti dari Poltekkes Kemenkes Denpasar melakukan penelitian berjudul “Rancangan Pelatihan Suami Siaga Stunting” di wilayah kerja Puskesmas Payangan, Gianyar.
Penelitian ini dipimpin oleh Bdn. Ni Wayan Armini, SST., M.Keb, bersama Gusti Ayu Marhaeni, SKM., M.Biomed, dan Dr. Bdn. Ni Nyoman Budiani, S.Si.T., M.Biomed sebagai tim peneliti. Ketiganya memiliki visi yang sama yaitu memberdayakan suami agar lebih memahami dan mampu berperan aktif dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.
Mengubah Paradigma: dari Penonton Menjadi Pendamping
Selama ini, banyak suami masih memandang proses kehamilan dan persalinan sebagai urusan perempuan.
Namun kenyataannya, peran suami sangat menentukan keberhasilan ibu menjalani kehamilan dengan sehat, persalinan yang lancar, serta proses menyusui yang optimal.
Kurangnya keterlibatan suami sering kali membuat ibu merasa sendiri, stres, bahkan mengalami gangguan kesehatan yang dapat berdampak pada tumbuh kembang bayi.
Melalui pelatihan "Suami Siaga Stunting", para peneliti ingin mengubah cara pandang tersebut. Kegiatan ini melatih para suami untuk memahami kebutuhan istri selama kehamilan, pentingnya asupan gizi, pemantauan kesehatan ibu, kesiapan menghadapi persalinan, hingga dukungan emosional dan fisik setelah bayi lahir.










