“Jazz mencakup berbagai sub-genre seperti Swing, Bebop, Ragtime, Smooth Jazz, Fusion Jazz, hingga yang paling kompleks, Free Jazz atau Avant-Garde Jazz. Festival ini memayungi semua jenis tersebut. Bukan hanya free jazz, tapi just jazz," ucap Co-founder Ubud Village Jazz Festival, Yuri Mahatma.
Galaxy Bigband, yang didirikan pada 1992 oleh warga Jepang di Jakarta, menjadi penutup acara dengan penampilan mereka yang luar biasa. Mereka mengajak penonton lokal dan asing menari bersama mengikuti lagu "Kopi Dangdut" yang diaransemen dalam bentuk jazz, menciptakan suasana yang meriah dan penuh kegembiraan.
Dengan segala keindahan dan kelenturan, sekaligus kerumitan tekniknya, jazz terus menjadi wadah ekspresi yang tak terbatas. Ubud Village Jazz Festival 2024, meskipun telah berakhir, meninggalkan jejak kenangan manis dan pengalaman berharga yang akan selalu dikenang oleh para penggemarnya. "Sampai jumpa di Ubud Village Jazz Festival tahun depan," pungkas Yuri Mahatma.

Mengusung tema “Love Is Us”, Iluh Bali Art Group ambil bagian dalam pagelaran Ubud Village Jazz Festival.
Sebelumnya, kelompok perempuan yang berkesenian di Bali, Iluh Bali Art Group juga ambil bagian dalam pagelaran Ubud Village Jazz Festival. Kolaborasi ini mengusung tema “Love Is Us”. Dalam maknanya Tema Love Is Us merupakan sebuah harapan baik yaitu “Terberkatilah”, yakni niat yang baik untuk saling mendoakan dan mendukung satu dengan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Iluh Bali menampilkan karya seni berupa lampion yang dipamerkan dan menghiasi sudut-sudut area dimana UVJF berlangsung, dengan total lampion mencapai 110 buah, hasil karya dari 79 seniman. Iluh Bali turut menggandeng seniman lain yang berasal dari berbagai latar belakang bidang keahlian seni, gender, lintas usia, mulai dari seniman yang baru memulai karir hingga seniman profesional.










