Sisi Kritis Workshop FP2030 Asia-Pacific: Ketika Anak Menjadi Ibu, Realitas Kehamilan Remaja di Indonesia

u10-IMG-20251012-WA0003
(ilustrasi foto-ist).

Riset Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (2022) juga menemukan bahwa peluang kematian neonatal dari kehamilan remaja bisa mencapai 7,4 kali lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia ideal 20–34 tahun.

Dalam satu dekade terakhir, Indonesia telah mencatat kemajuan berarti dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Berdasarkan data BPS, AKI turun dari 346 per 100.000 kelahiran hidup pada 2010 menjadi 189 pada 2020, atau menurun sekitar 45 persen. Meski begitu, angka ini masih tergolong tinggi dan setara dengan beberapa negara di Afrika. 

Pemerintah terus berupaya mencapai target RPJMN 2024 sebesar 183 per 100.000 kelahiran hidup, serta tujuan SDGs 2030 yaitu di bawah 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Seiring dengan itu, Angka Kematian Bayi (AKB) juga menurun dari 26 menjadi 16,85 per 1.000 kelahiran hidup dalam periode yang sama. 

Meski menunjukkan kemajuan, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak tetap menjadi kunci agar setiap persalinan membawa kehidupan, bukan kehilangan.

Kematian ibu tidak hanya meninggalkan luka emosional, tetapi juga membawa dampak jangka panjang bagi anak-anak yang ditinggalkan. 

Penelitian menunjukkan bahwa kehilangan ibu berisiko menyebabkan malnutrisi dan rendahnya tingkat pendidikan anak. Kondisi gizi ibu pun berperan penting: 13 persen bayi lahir dengan berat badan rendah di Indonesia terkait dengan gizi ibu yang tidak mencukupi selama kehamilan (UNICEF, 2020). Masalah ini berpotensi memicu stunting, meningkatkan risiko kematian neonatal, dan menjadi awal munculnya penyakit tidak menular di usia dewasa. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top