Sisi Kritis Workshop FP2030 Asia-Pacific: Ketika Anak Menjadi Ibu, Realitas Kehamilan Remaja di Indonesia

u10-IMG-20251012-WA0003
(ilustrasi foto-ist).

Pada tahun 2012, hanya 0,9% remaja perempuan dan 7% remaja laki-laki yang dilaporkan aktif secara seksual. Namun, pada 2015, angka tersebut naik menjadi 2,3% perempuan dan 7,3% laki-laki. 

Sejumlah penelitian terkini bahkan mengindikasikan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari yang tercatat.

Sayangnya, hanya 14,1% remaja yang aktif secara seksual menggunakan alat kontrasepsi. Pengetahuan mengenai layanan kesehatan reproduksi juga masih terbatas — hanya 22% remaja usia 15–19 tahun yang tahu di mana bisa mengakses layanan tersebut, dan kurang dari 5% yang benar-benar pernah memanfaatkannya.

Keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi ini meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan, penyakit menular seksual, serta berbagai dampak sosial dan ekonomi lainnya. 

Ketidaktahuan ini diperparah oleh budaya tabu yang membuat diskusi tentang seksualitas dan tubuh dianggap memalukan. Akibatnya, remaja sering kali mencari jawaban dari sumber tidak tepercaya — teman sebaya, media sosial, bahkan mitos yang beredar turun-temurun.

Kondisi ini menempatkan perempuan muda dalam posisi sangat rentan — tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. 

Dampak yang Tak Sederhana

Kehamilan remaja berdampak negatif pada kesehatan remaja dan bayinya, juga dapat berdampak sosial dan ekonomi. Kehamilan pada usia muda atau remaja antara lain berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), perdarahan persalinan, yang dapat meningkatkan kematian ibu dan bayi. Kehamilan pada remaja juga terkait dengan kehamilan tidak dikehendaki dan aborsi tidak aman.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top