Sinergi Pariwisata dan Tradisi, DTW Jatiluwih Salurkan Puluhan Ribu Ton Pupuk untuk Petani

1000023084
DTW Jatiluwih distribusikan 22.811 ton pupuk ke Subak.
TABANAN-fajarbali.com | Mengawali musim tanam pertama di tahun 2026, Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih mempertegas perannya dalam menjaga keseimbangan antara sektor pariwisata dan pelestarian alam. Terhitung sejak 30 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026, pihak manajemen secara maraton mendistribusikan bantuan pupuk kepada para petani yang tergabung dalam tujuh Tempek Subak di kawasan Jatiluwih. Langkah strategis ini merupakan upaya nyata untuk menjamin kualitas beras merah khas Jatiluwih tetap prima sebagai produk unggulan yang telah diakui dunia.
 
Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, menyatakan bahwa bantuan kali ini mencakup luasan lahan yang cukup signifikan, yakni mencapai 227,41 hektar. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, manajemen menerapkan kebijakan khusus sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para petani dalam merawat bentang alam Jatiluwih. "Setiap Tempek Subak mendapatkan tambahan volume pupuk sebesar 10 kilogram di luar perhitungan standar luas lahan mereka, guna memberikan rasa aman bagi petani menghadapi dinamika kebutuhan di lapangan," ujarnya.
 
"Kami ingin memastikan setiap petani memiliki cadangan nutrisi yang cukup untuk lahannya. Penambahan 10 kilogram per Tempek ini adalah simbol apresiasi kami agar mereka tidak perlu khawatir akan kekurangan stok di tengah fluktuasi harga sarana produksi saat ini," imbuh Jhon Ketut Purna saat memantau langsung proses distribusi di lapangan. Kebijakan ini disambut antusias oleh para petani yang mulai mengolah lahan di awal Januari.
 
Secara kumulatif, total pupuk yang diserahkan mencapai angka fantastis, yakni 22.811 ton. Proses distribusi dilakukan dengan prinsip transparansi dan proporsionalitas, di mana perhitungan didasarkan pada besaran wilayah yang dikelola oleh masing-masing Tempek dengan standar umum 1 kilogram per are. Manajemen memastikan bahwa setiap butir pupuk tersalurkan secara adil guna mendukung produktivitas lahan yang merata di seluruh kawasan konservasi tersebut.
 
Rincian penyaluran bantuan ini mencakup tujuh wilayah subak yang menjadi tulang punggung hijau Jatiluwih. Subak Gunung Sari menerima 4,859 ton, disusul Subak Kedamaian sebanyak 2,216 ton, dan Subak Besikalung sebesar 3,763 ton. Selanjutnya, bantuan juga mengalir ke Subak Kesambi sebanyak 1,396 ton, Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede dengan porsi terbesar yakni 6,51 ton, serta Subak Umaduwi sebanyak 1,863 ton.
 
Kehadiran seluruh perwakilan Tempek dalam proses serah terima ini menandakan kuatnya sinergi antara pengelola wisata dan komunitas adat. Bagi masyarakat setempat, bantuan ini bukan sekadar bantuan materiel, melainkan "nyawa" bagi keberlanjutan sawah-sawah mereka yang dikerjakan secara tradisional. Pola tanam alami yang tetap dipertahankan hingga kini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO ini.
 
Jhon Ketut Purna menekankan bahwa eksistensi pariwisata Jatiluwih adalah "bonus" dari keteguhan petani dalam menjaga sistem Subak dan warisan leluhur. Tanpa adanya hamparan sawah yang terawat secara alami, Jatiluwih akan kehilangan identitasnya sebagai destinasi wisata hijau. Oleh karena itu, dukungan penuh terhadap sarana produksi pertanian, terutama di masa krusial awal musim tanam, menjadi kewajiban mutlak bagi pihak manajemen.
 
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan harapan kolektif agar musim panen periode pertama tahun 2026 dapat menghasilkan gabah yang melimpah dan berkualitas tinggi. Dengan sinergi yang harmonis antara manajemen DTW dan para petani, Jatiluwih optimis dapat terus mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan Bali sekaligus destinasi wisata berkelanjutan yang membanggakan Indonesia di mata internasional. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top