DENPASAR-fajarbali.com | Dalam menghadapi tantangan fluktuasi harga komoditas pangan saat musim panen raya, Perum Bulog mengambil langkah strategis dengan menjalin kemitraan langsung bersama petani.
Kerja sama ini fokus pada penyerapan dua komoditas utama, yaitu beras dan jagung, yang merupakan hasil unggulan pertanian Provinsi Bali.
Melalui skema kemitraan ini, Bulog tidak hanya berperan sebagai off-taker hasil panen, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mendukung keberlanjutan produksi pangan lokal.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali, yang turut memfasilitasi koordinasi antara petani, kelompok tani, gapoktan, serta unsur BUMN dan BUMDes.
Kepala Distanpangan Bali I Wayan Sunada menyampaikan, pola kemitraan ini merupakan bentuk nyata menjamin hasil panen petani dengan harga yang sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Hasil pantauan khususnya lahan jagung di Kecamatan Grokgak, Buleleng seluas 60 Ha jagung telah habis panen, tersisa sekitar 5% dengan produktivitas 5 sampai dengan 6 ton/ha.
Saat ini, jelas Sunada, harga jagung tongkol kering Rp 2.200,-/kg dan harga pipilan kering Rp 4.500,-/kg dan Bulog siap membeli jagung pipilan kering dengan kadar air 14% dengan harga Rp5.500,-/kg.
Menyadari urgensi perlindungan terhadap hasil panen lokal, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Wayan Sunada, menyampaikan bahwa kerja sama ini bukan sekadar transaksi jual beli, tetapi bagian dari sistem ketahanan pangan Bali yang berbasis kearifan lokal dan keberlanjutan.










