Lebih lanjut dikatakan, pemerintah mengelola dana adalah itu dana rakyat, untuk itu jika nanti memimpin Badung, akan dikembalikan lagi ke rakyat baik ke desa adat dan Banjar adat. "Kenapa kita salurkan ke Banjar adat?, karena di Bali suka duka kita ada di Banjar adat setelah dimasing-masing keluarga. Ngamong tri kahyangan berdasarkan pah-pahan banjar dan inilah menjadi pemikiran kami agar Krama Badung tidak beban dalam pembiayaan. Dan program ini juga tanpa memandang golongan, serta tanpa fasilitator," ungkapnya.
Sementara calon Wakil Bupati Badung, I Putu Alit Yandinata mengatakan, pihaknya memohon para relawan Suyadinata di Desa Jagapati, Angantaka dan Sedang ini bisa mensosialisasikan program Suyadinata ini. Ada sejumlah program populis yang dimiliki diantaranya Rp 2 miliar per desa adat, Rp 1 miliar per banjar adat, Rp 150 juta per subak, Rp 25 juta untuk santunan kematian, Rp 2 juta untuk tunjangan lansia. Begitu juga pembagian be celeng kepada umat Hindu setiap menjelang Galungan dan umat lain diberikan daging, namun bukan daging babi, tapi yang lain. "Program lainnya yakni kesehatan gratis serta pendidikan gratis baik untuk sekolah negeri maupun swasta sudah kita pastikan akan kami realisasikan. Bahkan kita juga siapkan satu keluarga satu sarjana dengan kita membuat kampus yang representatif di Badung," paparnya.
Lebih lanjut dikatakan, Setelah dihitung, semua program di atas hanya menghabiskan Rp 2 triliun dari APBD Badung yang menembus Rp 10 triliun setiap tahunnya. "Kami bertanggung jawab, program ini diterapkan mulai tahun pertama menjabat," tegasnya.










