Menurutnya, karyawan yang jumlahnya yang hampir 80 orang, di duga menjadi penyeban perusahaan kesulitan untuk membayar gaji. Penjualan air minum pun dijual dengan harga diskon. Dimana harga perdus Rp 20 ribu dijual menjadi Rp18 ribu.”Kami menjadi karyawan tinggal bekerja masalah keuangan itu semua hak perusaan bahkan memberikan harga diskon kepada pelanggan itu oleh perusaan. Dimana kesalahan kami sebagai karyawan? Kenapa kami yang harus diterlantarkan seperti ini,”katanya dengan penuh Tanya.
Karyawan lain, Ketut Suastika juga mengeluhkan peruaahaan tak mebayarkan jaminan BPJS ketenagakerjan. Padahal gaji telah dipotong. Hal tersebut mereka ketahui ketika ada salah satu karyawan yang telah berhenti hendak mencairkan jaminan namun tidak bisa. Bahkan, akhir-akhir ini ada kesepakatan perusahan bersedia mengaji dengan potongan 75 persen dari gaji mereka. Hal itu juga sangat disayangkan para karyawan.”Sekarang ada keputusan gaji mau di potong 75 persen. Apa yang kita makan.
Itu yang kami keluhkan,”ucapnya. Sementara itu, Ketua DPRD kabupaten Buleleng Gede Supriatna mengaku akan segera melakukan koordinasi dengan manajemen yeh Buleleng serta pemerintah daerah. Saat ini saham terbanyak yeh Buleleng di miliki oleh PDAM Buleleng sekitar 80 persen.
”Kita segera bersurat dan mengundang direksi yeh Buleleng dan pidah-pihak terkait. KIita akan ajak juga pemkab untuk berdiskusi untuk penyelesaian masalah ini,” janji Supriatna. Pihaknya juga akan berusaha mengupayakan agar perusahaan ini tetap bisa berjalan. Jangan sampai para karyawan juga diberhentikan.”Kami harapkan para karyawan tetap bersabar dan bekerja seperti biasa biarkan kami akan bekerja untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan melakukan runding dengan pihak terkait,” akunya.










