DENPASAR-fajarbali.com | Bali International Choir Festival (BICF) ke-15 kembali hadir sebagai salah satu ajang paduan suara internasional paling bergengsi di Indonesia. Diselenggarakan pada 26–30 Juli 2026 di Denpasar, Bali, festival tahunan ini mempertemukan ribuan vokalis dari berbagai daerah di Tanah Air hingga mancanegara untuk merayakan kreativitas, kolaborasi, dan keberagaman lintas budaya melalui musik.
Tahun ini, gelaran BICF tampil semakin megah dengan menghadirkan 16 dewan juri dan pakar paduan suara papan atas dari berbagai negara. Sederet nama besar di dunia koral, seperti Dr. Anton Armstrong dan Dr. Pearl Shangkuan asal Amerika Serikat, Vytautas Miškinis dari Lituania, hingga Budi Utomo Prabowo mewakili Indonesia, siap memberikan penilaian objektif dan edukatif bagi para peserta.
Semangat inklusivitas tampak jelas dari keberagaman peserta yang berpartisipasi. Selain tuan rumah Indonesia, BICF 2026 diikuti oleh kontingen dari China, Malaysia, Filipina, Singapura, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat. Khusus partisipan domestik, tercatat perwakilan dari 13 provinsi hadir meramaikan kompetisi, mulai dari Sumatra Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Sulawesi Selatan dan Bali.
Secara keseluruhan, ajang ini diperkirakan menyedot partisipasi sekitar 3.000 penyanyi. Menariknya, dampak keberadaan festival ini meluas melebihi panggung kompetisi, dengan estimasi pergerakan hingga 6.000 pengunjung yang datang mendampingi para peserta, khususnya pada kategori kelompok paduan suara anak-anak.
Festival Director BICF 2026 sekaligus Direktur Bandung Choral Society, Indra Kurniawan Salama, menyampaikan bahwa ajang tahun ini membawa skala partisipasi yang lebih besar dan variatif. "Yang membedakan tahun ini pesertanya lebih banyak dan kategori yang diikuti juga lebih bervariasi. Pokoknya tahun ini lebih keren dibanding tahun-tahun sebelumnya," ungkapnya.
Sebanyak 18 kategori dilombakan untuk mengakomodasi berbagai kelompok umur dan jenis musik. Indra menambahkan, Indonesia mendominasi jumlah peserta dengan menghadirkan sekitar 60 hingga 70 kelompok paduan suara serta 50 hingga 60 penyanyi solo. "Kalau peserta paduan suara anak, biasanya datang bersama orang tua, kakek, nenek, dan keluarga besar. Jadi total orang yang hadir di Bali bisa mencapai sekitar lima sampai enam ribu orang," tambahnya.
Mengusung tema konsisten "Singing Together is Better", BICF 2026 dirancang bukan sekadar ajang adu bakat, melainkan juga wahana mempererat persahabatan antarbangsa. Indra menegaskan komitmennya untuk meluaskan gaung festival ini di mata dunia. "Kami ingin festival ini semakin besar dan semakin banyak orang di luar negeri yang tahu bahwa ada festival paduan suara yang keren di Bali," jelasnya.
Selama lima hari penyelenggaraan, agenda festival dikemas secara padat dan inspiratif. Selain Opening Ceremony dan babak kompetisi utama, terdapat dua program unggulan yaitu Choral Exchange di Icon Bali dan konser amal (charity concert) di Gereja Katedral Bali. Program Choral Exchange menjadi wadah unik di mana dua kelompok dari latar budaya berbeda saling mempelajari lagu daerah, pengalaman, hingga tarian tradisional masing-masing.
Puncak persaingan kompetisi akan bermuara pada babak Grand Prix, yang mempertemukan para juara dari setiap kategori untuk memperebutkan gelar juara umum BICF 2026. Sang juara utama nantinya akan mendapatkan tiket emas untuk mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Asia Choral Grand Prix tahun depan yang bertempat di Manila, Filipina.
Dukungan penuh juga mengalir dari Pemerintah Provinsi Bali atas terselenggaranya perhelatan internasional ini. Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Kemasyarakatan, I Made Rentin, menegaskan dampak strategis acara ini bagi daerah. "BICF 2026 diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pengembangan musik paduan suara di Indonesia, sekaligus menjadi kontribusi nyata bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali," tutupnya. (M-001)









