Dibeberkannya, ciri penyakit penyebab kematian babi massal di Tabanan dan Badung adalah, nafsu makan berkurang, lumpuh, ada bintik merah pada kulitnya. Dalam hitungan 5 hari babi akan mati. Untuk mencegah Gianyar terpapar virus ASF tersebut Dinas Pertanian Gianyar gencar melaksanakan sosialisasi. Sosialisasi pertama dilaksanakan di Banjar Abasan, Singapadu Tengah, Senin(27/1/2020) lalu, yang mana banyak babi masyarakat yang mati mendadak. Sosialisasi juga dilakukan di Desa Lodtunduh, Desa Puhu, Desa Bukian. “Melalui sosialisasi ini kami harapkan masyarakat waspada terhadap meluasnya virus ASF ini,” harapnya.
Diimbau kepada peternak agar menjaga keamanan kandang, tidak memberikan orang lain lalulalang di dalam kandang. “Kalau masuk kandang harus bersih dan ganti pakaian jelasnya. Ditekankan, bila menjual babi dalam kondisi sehat dan steril. Yang lucu menurutnya, peternak mandi dang anti pakaian sebelum ke kandang. Pembuangan anak babi yang mati juga harus dikubur. “Walau jenis virus ini tak menular ke manusia, sebaiknya membeli daging yang sehat. Jika ketahuan menjual babi sakit akan berurusan dengan hukum,” tegasnya.
Dari data yang ada, populasi babi mencapai 150 ribu ekor di peternakan besar oleh 50 pengusaha. Selebihnya, dipelihara secara rumah tangga. Peternak asal Banjar Tangkup, Desa Bukian, Payangan I Wayan Arya mengatakan, paparan virus ASF ini membuat khawatir petenak babi. Terlebih di Gianyar sudah ada babi mati yang mendadak. “Sebaiknya penyebab kematian babi di Gianyar segera diketahui, agar peternak waspada terhadap antisipasinya,” harap Wayan Arya. Sedangkan saat ini, harga daging babi di Gianyar masih stabil.(gds)










