“Sebagai penikmat dan pecinta seni kami berharap Kabupaten Badung khususnya Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung bisa menggali sekaa- sekaa palegongan yang memang khas, yang memiliki keautentikan karya-karya khususnya seniman seperti kebanggaan kami di Kuta, Bapak I Wayan Lotring. Karena kita sangat mengakui bahwa Bapak I Wayan Lotring berjasa dalam dunia palegongan yang mana karya-karya beliau dan spirit beliau mengakar dan tetap merasuk di jiwa seniman saat ini. Nah kami berharap Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bisa menelaah lagi duta-duta yang berkompeten dan kredibel di bidang palegongan,” tandasnya.
Pembina Tari Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Ni Nyoman Andra Kristina, mengatakan dalam proses latihan dan persiapan dari pelegongan ini mengambil waktu yang lumayan panjang hampir empat (4) bulan. Dengan melibatkan 60 orang penabuh dan penari. “Kesan-kesan kami dengan terpilihnya Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, sebagai Duta Kabupaten Badung, dalam ajang parade palegongan klasik khas kabupaten ini, kami benar-benar sangat bangga. Kami benar-benar sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan yang baik ini dan tampil di ajang pesta kesenian Bali di tahun 2024,” ucapnya.
Pada kesempatan tersebut Sanggar Seni Kuta Kumara Agung menampilkan empat (4) materi yaitu gending “ Kawitan” Karya Maestro Alm. I Wayan Lotring disusul dengan Tari Legong Klasik “Semarandahana”. Tari ini mengisahkan pengorbanan Dewa Semara dan Dewi Ratih dalam menjaga ketentraman surga dari amukan raksasa Nilarudraka yang tiada tandingannya. Demi menjaga kedamaian, Dewa Semara dengan rela membangunkan Dewa Siwa dari tapa semadhinya di Gunung Khailas dengan panah asmara, sehingga Dewa Siwa merasakan cinta dan menemui istri beliau, Dewi Uma. Dewa Semara dan istrinya, Dewi Ratih, akhirnya menerima kemarahan dari Dewa Siwa yang merasa terganggu dari tapanya, dan membakar sepasang dewa tersebut menjadi abu. Namun, atas permohonan Dewi Uma, abu mereka ditaburkan ke dunia agar setiap makhluk dapat merasakan cinta kasih dengan pasangannya. Formulasi gending iringan dari tari Legong Semarandhana ini merupakan karya maestro I Wayan Lotring, dengan nama "Linggar Bawa".










