MANGUPURA-fajarbali.com | Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park bersiap menggelar perhelatan tahunan Pesta Rakyat 2026 pada 17 Agustus mendatang. Memasuki penyelenggaraan tahun keenam, acara ini dirancang lebih megah dengan memadukan unsur hiburan, pelestarian budaya lokal, keterlibatan masyarakat, serta misi edukasi lingkungan hidup.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Pesta Rakyat GWK 2026 mengusung konsep unik yang dirangkai dari akronim kata "PESTA", yakni Panggung Budaya, Eksplorasi Rasa, Sorak-Sorai, Titik Temu, dan Alam Lestari. Konsep ini dihadirkan untuk memberikan pengalaman kemerdekaan yang bermakna dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah ini menegaskan komitmen GWK sebagai ikon nasional yang konsisten menjaga nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Indonesia.
Public Relation Department Head GWK Cultural Park, Indriani Kusuma, menekankan bahwa acara ini disusun dengan landasan historis dan kultural yang kuat. "Sebagai anak Indonesia, kami menghadirkan perayaan yang tidak hanya sekadar hiburan, tetapi mengangkat nilai-nilai budaya Indonesia serta melibatkan masyarakat dalam suasana kebersamaan," ujarnya.
Implementasi dari kelima elemen tersebut dijelaskan lebih terperinci oleh Event & Experience Department Head sekaligus Koordinator Acara, Ni Wayan Primayanti. Pada elemen Panggung Budaya, area akan diisi oleh perlombaan tradisional khas 17-an seperti panjat pinang dan tarik tambang untuk berbagai tingkatan usia. Sementara pada elemen Sorak-Sorai, kemeriahan disajikan melalui pertunjukan musisi nasional seperti D'Masiv, kemeriahan undian berhadiah (doorprize), hingga atraksi kembang api spektakuler di tiga titik area konser.
Selain hiburan, aspek kolaborasi sosial dan kepedulian lingkungan turut menjadi pilar utama perhelatan ini. Melalui elemen Titik Temu, GWK merangkul berbagai komunitas untuk tampil di Plaza Garuda. Pada elemen Alam Lestari, manajemen memprioritaskan manajemen sampah terpadu guna menjaga kebersihan kawasan festival.
"Kami mengupayakan acara ini berdampak baik buat lingkungan. Pemilahan sampah sangat penting untuk proses daur ulang menjadi kompos, dan kami menyediakan petugas lapangan serta brosur edukasi untuk mengarahkan pengunjung," jelas Primayanti.
Sektor kuliner juga mendapatkan sentuhan inovasi melalui elemen Eksplorasi Rasa. Puluhan pelaku UMKM kuliner dihadirkan dengan sajian tematik khas Nusantara. Food & Beverage Division Head GWK, Ivan Munara, memaparkan kreasi unik seperti 'Sangsa Burger' yang menggunakan roti merah alami dari ubi ungu dan bit, paduan patty ayam bumbu genep khas Bali, serta stik singkong sebagai pengganti kentang goreng.
"Untuk mengangkat budaya, patty burgernya menggunakan daging ayam berbumbu genep (bumbu khas Bali), lengkap dengan singkong fries sebagai pengganti kentang agar karakter Indonesianya kuat," ungkap Ivan Munara.
Melengkapi pengalaman budaya pengunjung, area berlatar tebing kapur ikonik GWK ini juga menyediakan fasilitas studio foto pakaian adat Bali. Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, menegaskan bahwa Pesta Rakyat merupakan bagian integral dari empat pilar agenda tahunan GWK sejak 2019, bersanding dengan Festival Penjor, Festival Ogoh-Ogoh, dan Bali Countdown.
"Kemerdekaan bagi kami adalah sesuatu yang sakral yang memang harus kita rayakan secara nasional. Konsep 'PESTA' ini kami kemas sedemikian rupa agar seluruh rangkaian acara sesuai dengan visi misi GWK sebagai ikon budaya. Semoga pertunjukan kembang api dari tiga titik berbeda nanti semakin menyemarakkan Pesta Rakyat kali ini," tutur Rossie.
Untuk memudahkan akses masyarakat, pengelola menyediakan penjualan tiket secara daring melalui situs resmi GWK Cultural Park. Selama masa promo terbatas, tiket ditawarkan mulai dari harga khusus untuk kategori reguler dan VIP sebelum kembali ke tarif normal, yaitu Rp150.000 untuk tiket reguler dan Rp250.000 untuk kelas VIP. (M-001)










