"Sorenya baru dilaksanakan pengaskaran yang dipuput Ida Pedanda Siwa dari Griya Sidemen Gulingan, Pedanda Buda dari Griya Jadi tabanan. Sedangkan mepetik, telu bulanan dilakukan di Jeroan Pura Dalem dipuput ida Pedanda dari Griya Banjar Serangan Megwi," bebernya.

Terkait biaya, Made Jiwa, menjelaskan bersumber dari bantuan Pemkab Badung, punia krama (seikhlasnya) serta "back up" dari desa adat. Desa Adat Mengwi juga tidak memaksa kramanya untuk mengikuti memukur massal. "Jika mampu sendiri-sendiri silakan. Tapi kami imbau untuk bergabung agar kita terus kompak," pungkasnya.
Pemucuk Karya sekaligus Bendesa Adat Mengwi, Ida Bagus Oka, menambahkan, memukur massal berikut rangkaiannya adalah ajang mempersatukan krama adat Mengwi. Untuk mengatur persiapan, krama dijadwalkan ngayah bergiliran agar mudah mengatur waktu di bidang pekerjaan dan kewajiban ngayah selama karya.
"Kami bersyukur prosesi upacara berjalan lancar dari awal, bulan lalu nunas ica hingga hari H. Tentu berkat semangat seluruh krama kami, perhatian pemerintah dan panglingsir kami," jelas Ida Bagus Oka.
Pada kesempatan yang sama, Pengarajeg Karya sekaligus Panglingsir Puri Ageng Mengwi AA Gde Agung, mengungkapkan, nyekah atau memukur masaal ini, digagas tahun 2015 saat ia menjabat Bupati Badung.
Ide tersebut lahir karena sebelumnya krama adat Mengwi "ngiring" atau mengikuti memukur saat palebon di puri. Namun, tentunya palebon di Puri Ageng Mengwi tidak bisa ditentukan kapan waktunya. Bisa sagat lama.
"Karena itu saya berinisiatif merancang program nyekah massal tiap dua tahun sekali. Kalau terus ngiring di puri, kasihan, bisa nunggu lama," jelas Panglingsir yang juga Anggota DPD RI ini.










