Sementara itu, di The Mandalika, NTB, konsep green tourism diimplementasikan lewat konservasi pesisir dan perluasan ruang terbuka hijau. ITDC aktif melakukan penanaman pohon, restorasi mangrove, serta agenda pembersihan pantai berkala yang melibatkan masyarakat lokal dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Inisiatif ini tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan ekonomi warga setempat melalui pendekatan ekonomi sirkular yang inklusif.
Sebagai bagian dari penguatan sektor ekowisata, ITDC tengah merencanakan proyek ambisius berupa Mandalika Mangrove Sanctuary seluas 47,8 hektar di NTB. Kawasan konservasi ini diproyeksikan menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus destinasi wisata baru yang berbasis pada prinsip keberlanjutan. Melalui proyek ini, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam tetapi juga mendapatkan edukasi mendalam mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Di sisi lain, The Golo Mori di NTT dikembangkan dengan konsep yang tidak kalah inovatif, yaitu sustainable marine-based and ecotourism destination. ITDC fokus menyelaraskan konservasi alam dengan pengembangan fasilitas pariwisata premium berskala MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions). Pendekatan cerdas ini sengaja dirancang untuk menciptakan pemantik ekonomi baru di wilayah Indonesia Timur tanpa mengorbankan keaslian dan kelestarian ekosistem laut lokal.
Ahmad Fajar menambahkan bahwa pencapaian ini menjadi motivasi besar bagi ITDC untuk terus memperkuat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). “Ke depan, ITDC berkomitmen menghadirkan destinasi wisata berkelas dunia yang unggul secara infrastruktur sekaligus memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat. Melalui inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan komunitas, ITDC optimis dapat terus memajukan sektor pariwisata nasional yang tangguh dan berkelanjutan,” pungkasnya. (M-001)










