Isu kesehatan mental juga semakin mendesak. Sebuah survei yang dilakukan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan sebanyak 15,5 juta remaja, atau sekitar 34,9 persen, mengalami masalah kesehatan mental.
Angka ini mencerminkan kebutuhan intervensi yang lebih kuat. “Kalau fisik kita sakit, ada obat. Tetapi kalau mental yang sakit, obatnya adalah keluarga, komunikasi, dan lingkungan yang mendukung,” ujar Menteri Wihaji.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjadikan remaja sebagai mitra pembangunan. “Remaja jangan hanya dianggap obyek program, tetapi subyek yang aktif. Mereka harus diberi ruang untuk berpartisipasi, berkreasi, dan berkontribusi. Itulah jalan menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Menteri Wihaji menegaskan bahwa pemerintah membuka ruang luas bagi kolaborasi. “Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, kampus, organisasi masyarakat, dan tentu para remaja sendiri harus bersatu. Jika bersama-sama, kita bisa melahirkan generasi muda yang sehat, berdaya, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” kata Menteri.
Sebagai wujud konkret kolaborasi lintas pihak, dalam kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Direktur Eksekutif Plan Indonesia dan Direktur Bina Ketahanan Remaja.
Kesepakatan ini menandai langkah strategis untuk memperkuat kemitraan Plan Indonesia dan GenRe Indonesia dalam penguatan kapasitas remaja, kampanye kesehatan, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Gaya Hidup Sehat Sejak Remaja










