Revitalisasi Kintamani, Coop Coffee Foundation & UID Dorong Masa Depan Kopi Inklusif

2026-03-05-at-20.22.51
Gen-Z dan diplomasi kopi, menilik kolaborasi strategis di Starbucks Reserve Dewata.

MANGUPURA-fajarbali.com | Ancaman perubahan iklim dan disrupsi rantai pasok pasca-pandemi menjadi alarm keras bagi industri kopi nasional. Menjawab tantangan tersebut, Coop Coffee Foundation hadir sebagai garda depan dalam mengimplementasikan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs 17) melalui pendekatan keuangan campuran (blended finance). Fokus utamanya adalah memperkuat ekosistem ekspor kopi Indonesia yang kini tengah berjuang menghadapi kerentanan cuaca ekstrem dan fluktuasi pasar global.

Sejak tahun 2024, yayasan ini konsisten mengusung program bertema Coffee, Carbon & Climate. Program ini tidak hanya berfokus pada komoditas, tetapi juga mengintegrasikan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion). Dengan menempatkan pemuda, perempuan, dan kelompok disabilitas sebagai pilar utama, Coop Coffee Foundation berupaya memastikan bahwa transformasi industri kopi di masa depan bersifat inklusif dan memberikan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Momentum penting tercipta saat Coop Coffee Foundation berkolaborasi dengan UID Foundation menggelar program pembelajaran eksklusif bertajuk “Youth, Coffee and Climate” di Starbucks Reserve Dewata, Bali, Kamis (5/3/2026). Lokasi ini dipilih sebagai simbol komitmen keberlanjutan global. Melalui program ini, generasi Z diajak memahami bahwa secangkir kopi yang mereka nikmati memiliki keterkaitan erat dengan krisis iklim dan kesejahteraan petani di hulu.

Founder Coop Coffee Foundation, Reza Fabianus, menekankan pentingnya penggunaan media sosial dan pemikiran holistik bagi anak muda untuk memecahkan masalah sistemik di tingkat petani. Menurutnya, pemahaman lintas sektoral dan multidisiplin sangat krusial bagi masa depan kopi Kintamani. “Tujuannya jelas yaitu menciptakan rantai pasok yang berkeadilan, di mana nilai tambah ekonomi tidak hanya berhenti di kafe-kafe modern, tetapi juga dirasakan langsung oleh para petani di ladang,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top