Refleksi Hari Guru: Mengembalikan Esensi, Menyatukan Komitmen

4


Ketika ketiganya (wisesa, pengajuan, dan rupaka) berjabat tangan, anak akan mendapatkan pendidikan yang utuh: moral, intelektual, dan spiritual. Namun, apa yang terjadi ketika ketiganya tidak lagi harmonis? Guru wisesa, yang diwakili oleh pemerintah, mungkin hadir dengan kebijakan yang penuh semangat, tetapi jika tidak mendukung kesejahteraan guru pengajian atau tidak melibatkan mereka dalam pembuatan kebijakan, maka pendidikan kehilangan arah. Kebijakan pendidikan menjadi formalitas tanpa esensi. Sementara itu, guru pengajian atau guru di sekolah berjuang di lapangan dengan keterbatasan sumber daya dan apresiasi. Ketika mereka kehilangan wibawa atau semangat, proses belajar-mengajar menjadi kehilangan makna. Guru rupaka, sebagai orang tua, seringkali menempatkan tanggung jawab penuh pada sekolah, lupa bahwa pendidikan dimulai dari rumah. Ketika mereka tidak lagi mendukung guru pengajian atau bahkan meragukan perannya, anak kehilangan fondasi nilai.


Tanpa harmoni ini, pendidikan kita menjadi fragmentaris—seperti kapal tanpa nahkoda, dengan setiap pihak mendayung ke arah berbeda. Anak-anak, yang seharusnya menjadi pusat perhatian, justru terombang-ambing di tengah kepentingan yang saling bertentangan. Hari Guru seharusnya bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi mendalam. Sebuah panggilan untuk pemerintah, guru, dan orang tua agar kembali bergandengan tangan, memperkuat komitmen bersama. Mengembalikan kepercayaan pada guru berarti mengembalikan pendidikan ke jalur yang benar: di mana guru dihormati, didukung, dan diberdayakan, sehingga mereka mampu mendidik dengan sepenuh hati.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top