Menurutnya, penting bagi seluruh semeton untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, sekaligus bagaimana menjaga kebersamaan untuk tahun-tahun mendatang. “Dalam kehidupan menyama braya, yang paling utama adalah rasa pasemetonan. Supaya bisa saling asah, asih, asuh. Kalau ada yang kurang agar bisa saling memaafkan,” katanya.
Ida Rsi Arimbawa Puja Segara menegaskan, keluarga yang kuat bukan berarti tidak pernah memiliki perbedaan. Namun, keluarga yang kuat adalah keluarga yang mampu menjaga kerukunan, komunikasi, dan rasa saling menghargai meskipun terdapat perbedaan.
Kepada generasi penerus, Ida Rsi mengingatkan pentingnya menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur dan pendahulu. Perkembangan teknologi dan perubahan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan nilai dharma, etika, sopan santun, rasa hormat kepada leluhur, adat, budaya, agama, dan semangat menyama braya. “Jangan sampai kita menjadi generasi yang maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi kehilangan kebijaksanaan,” ujarnya.
Sulinggih asal Griya Tasik, Ngis, ini juga meminta generasi senior memberikan ruang, bimbingan, dan kepercayaan kepada generasi penerus untuk ikut melanjutkan serta mengembangkan organisasi MWBW. “Semoga di usia yang ke-96 tahun ini Maha Warga Bhujangga Waisnawa semakin kokoh, kompak, semakin harmonis, dan semakin banyak memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta agama,” harapnya.
Ketua Panitia HUT ke-96 MWBW, Guru Rai Suarta Waisnawa, mengatakan perayaan tersebut diikuti Moncol Pusat dan Moncol Kabupaten/Kota se-Bali, Sabha Ida Rsi Bhujangga Waisnawa, organisasi kepemudaan Eka Bhuwana Suta, serta Paiketan Pecalang Cakra Bhuwana. Hadir pula perwakilan pengurus Moncol terdahulu.










