Berinovasi, tidak hanya mengikuti arus teknologi, tetapi mampu menciptakan solusi baru yang menjawab masalah nyata. Sedangkan Bedampak Sosial, dimaknai bahwa mahasiswa harus menjadi agen perubahan, yang mampu menggerakkan masyarakat ke arah yang lebih baik, berkeadilan, dan berkelanjutan.
"Kegiatan AKKI ini saya harapkan tidak hanya menjadi rutinitas akademik, tetapi benar-benar menjadi wadah pembentukan mental, karakter, dan kepemimpinan mahasiswa," ucapnya.
Prof Tirka meyakini mahasiswa Universitas Ngurah Rai adalah generasi yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap mengabdi untuk negeri.
"Mari kita jadikan momentum AKKI ini sebagai langkah awal menuju mahasiswa yang unggul secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh dalam integritas moral," katanya memotivasi mahasiswa.
Di hari kedua, para maba mendapatkan pembekalan dari tiga narasumber, yakni Wakil Rektor III UNR Dr. Gede Wirata, S.Sos., SH., MAP., dan dua nara sumber eksternal; Ketua Yayasan Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan (Rumah KaKek) Pasraman Satyam Eva Jayate I Ketut Udi Prayudi dan Ketua Dewan Eksekutif Perkumpulan Institut KAPAL Perempuan Misiyah.
Gede Wirata menyampaikan materi mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi dan mensosialisasikan Satgas P2KPT (Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi).
"Kami berkomitmen penuh untuk menciptakan kampus ramah, inklusif dan bebas kekerasan. Kampus yang aman adalah syarat utama mencetak generasi yang unggul. Mari kita wujudkan Universitas Ngurah Rai bebas kekerasan, berlandaskan Tri Hita Karana," ujar Wirata.










