Rangkaian Upacara Yadnya di Pura Agung Angantelu-Gegelang Dipuput Enam Sulinggih, Setelah Seabad Lebih Tak Pernah Gelar Karya Agung

IMG-20260503-WA0030
Puncak Karya Agung di Pura Agung yang di-empon oleh dua desa adat, yakni Angantelu dan Gegelang, Manggis, Karangasem, berjalan lancar pada Purnama Jiyestha, Jumat 1 Mei 2026.

AMLAPURA-fajarbali.com | Hujan sempat turun, tetapi tidak menggoyahkan kekhidmatan krama Desa Adat Angantelu–Gegelang. Karya agung di Pura Agung setempat tetap berlangsung lancar, pada Jumat (1/5/2026) bertepatan dengan Purnama Jiyestha. 

Di tengah cuaca yang tak menentu, warga justru memperlihatkan keteguhan: tahapan demi tahapan upacara dijalani dengan tertib, seolah menjadi penegas bahwa bhakti tak tunduk pada keadaan.

Enam sulinggih memuput jalannya karya, yakni Ida Pedanda Gede Karang Nustana, Ida Pedanda Gede Nyoman Rai Tianyar, Ida Pedanda Gede Pradnya Putra, Ida Pedanda Istri Rai Oka Geniten, Ida Pedanda Istri Jelantik, serta Ida Pandita Mpu Nabe Darma Nata. Kehadiran mereka menjadi penuntun spiritual yang menjaga ritme upacara tetap sakral dan terarah.

Rangkaian dimulai dari upakara wisuda bumi dan purwa daksina, lalu mencapai puncak pada prosesi mendem pedagingan. Setelah itu, upacara berlanjut dengan katuran Ida Bhatara peselang, katuran di pegayungan, hingga ditutup dengan upakara di pedanan. Setiap tahap bukan sekadar ritual, melainkan peneguhan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Prawartaka karya, I Wayan Bandem, menegaskan bahwa yadnya ini sebagai bentuk sradha bhakti masyarakat kepada Ida Bhatara Sesuunan untuk memohon keselamatan bagi seluruh krama desa Angantelu–Gegelang. Semangat gotong royong menjadi tulang punggung pelaksanaan, melibatkan 19 banjar adat yang bergerak dalam satu irama pengabdian.

Di Bali, yadnya bukan hanya soal persembahan, tetapi juga cermin ajaran. Nilai panca srada dan tri kaya parisudha menjadi landasan etis sekaligus spiritual. Ketika keduanya bertemu dengan partisipasi warga yang tinggi, karya tak hanya berjalan lancar, tetapi juga menghadirkan rasa memiliki yang kuat di tengah masyarakat.

Bendesa Adat Gegelang, Jro Mangku I Ketut Arta, menyebut karya yang digelar meliputi Balik Sumpah Agung, Menawa Ratna, dan Nubung Daging. Sebelum puncak karya, rangkaian upacara seperti mendak tirta, melasti, tawur Balik Sumpah, hingga mapepada telah dilaksanakan. Puncaknya bertepatan dengan Purnama Sasih Jyesta, sekaligus beriringan dengan usaba Pura Agung.

BACA JUGA:  Apakah Arja Lolos dari "Kematian"? Simak Pendapat Para Pakar

Karya ini digelar setelah pembangunan pura rampung. Menurut Mangku Arta, keputusan melaksanakan karya besar baru diambil setelah dua desa adat—Angantelu dan Gegelang—sepakat menyatukan langkah. Sebab, pelaksanaan karya sebelumnya tak memiliki catatan pasti, baik dari sisi waktu maupun tingkatannya.

“Berdasarkan penuturan tetua dan bukti sejarah, mungkin lebih dari seratus tahun desa ini belum pernah melaksanakan karya sebesar ini,” ujarnya. Ia berharap, ke depan generasi berikutnya mampu menjaga kesinambungan, setidaknya dalam siklus 50 tahunan.

Lebih dari sekadar ritual, karya ini menjadi ruang penyatuan sosial. Dua desa adat yang mengempon pura menemukan momentum untuk mempererat hubungan, meneguhkan harmoni, dan merawat kebersamaan yang kerap diuji dinamika zaman.

Doa pun dipanjatkan sederhana tetapi dalam: agar krama desa Angantelu–Gegelang senantiasa dianugerahi keselamatan dan keseimbangan, bagi manusia maupun alam beserta isinya.

Karya kian semarak dengan pementasan tari wali sebagai pelengkap sakralitas. Rejang Dewa, Topeng Sidakarya, Wayang Lemah, hingga tabuh-tabuhan gamelan tua seperti selonding, gambang, dan dambur mengalun, menghadirkan suasana yang tak hanya religius, tetapi juga estetik.

Kehadiran guru wisesa—dari pemerintah desa hingga provinsi—serta Ida Dalem Semarapura sebagai manusa saksi menegaskan bahwa karya ini bukan hanya milik satu komunitas, melainkan bagian dari denyut kebudayaan Bali secara lebih luas.

Antusiasme warga terlihat jelas. Bagi mereka, karya ini bukan sekadar peristiwa keagamaan, tetapi tonggak sejarah: karya pertama dengan tingkatan utama, lengkap dengan sarana upacara menggunakan kerbau. Sebuah penanda bahwa tradisi, ketika dirawat bersama, tak hanya bertahan—tetapi juga tumbuh dengan martabat. 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top